Minggu, 28 September 2014

Aku dan (Hanya) Duniaku

Aku menangis...
Sungguh deras dan meledak-ledak. Tak karuan. Sakit menusuk tembus ke jantung.

Aku menangis...
Lirih memanggilmu sia-sia. Tak ada gunanya. Terus memanggil tanpa suara. Kecewa menembus relung hati hingga terluka. Tersayat belati.

Aku menangis...
Segala tentangmu di hati terbuka lebar. Terus menganga bersama duka yang kurang ajar.

Kau, benar-benar pergi?
Kau, benar-benar hilang?
Kau, benar-benar meninggalkanku?
Benarkah?
Iyakah?
Jawab...

Kau jangan pernah berani-beraninya untuk menyuruhku pergi, jangan! Kau saja yang memang ingin pergi. Silahkan...

Kau jaga mulutmu untuk menyuruhku menghilang, jaga! Kau saja yang memang kau ingin hilang. Rupanya kau nyaman, jika terus menghilang -- tanpaku...

Kau tak sopan berkata seperti itu, sungguh tak sopan! Aku bertahan, menjaga semuanya, lalu kau menyuruhku untuk pergi? Gusti Allah...

Biar saja. Biar saja kau pergi. Biar saja aku dan duniaku di sini. Biar saja. Biar saja kau abadi dalam puisiku, bersama jutaan aksara duka dan sukaku.

Biar saja. Biar saja aku sendiri mencintaimu. Biar saja aku terus bungkam mendoakanmu. Mendoakan kebahagianmu. Biar saja. Biar saja aku dan duniaku yang selalu menyayangimu.

Biar saja. Biar saja kini senja tanpa jingga. Biar saja ia terus menanti. Biar saja. Biar saja aku sendiri merajut kesabaran dan cinta untukmu. Semoga Tuhan menghadiahkan yang terindah.

Kau membuatku tertutup segala-galanya. Kau membuatku senang menyimpan segala tentangmu sendirian. Tak lagi-lagi aku bercerita tentangmu. Tak lagi! Biar saja aku dan hanya duniaku, aku mencintaimu -- dalam duka. Entah sampai kapan...

Aku mencintaimu, sungguh...

Segala tentangmu akan selalu baik-baik saja. Bumi hanya sedang berputar. Kita masih tetap di sana. Di singgasana kebahagiaan.

Aku tak membiarkan siapa pun masuk, sampai kau pulang. Benar-benar pulang. Menetap. Selamanya di hati. Aku akan terus berjuang, aku mempunyai banyak paket doa.

Jaga dirimu baik-baik...

Aku terus memperhatikanmu. Bahagialah, Di.

Aku mencintaimu, tak tahu sebesar apa, tak tahu ujungnya di mana, tak tahu sampai kapan. Aku hanya berdoa, kaulah yang terakhir atas pencarian cinta.

Salam,
Perempuan(mu)
Ara.

20:44 WIB, 28 September 2014

Sabtu, 27 September 2014

Bertahanlah, Raa...

Sudah malam ke berapa aku tanpamu? Malamku semakin sesak. Bagaimana dengan malammu? Semoga bahagia tetap di sana.

Wahai hati,
Tetaplah bertahan untuk cinta.

Wahai hati,
Tetaplah berjuang untuk cinta.

Wahai hati,
Tetaplah setia untuk cinta.

Izinkan aku bercerita tentang dirimu, tentang kita di masa lalu. Aku tak menyebutnya kenangan, aku tak ingin mengenangnya. Karena aku masih bersamamu. Kan?

Kau ingat saat pertama kita dekat? Awalnya kau dan aku hanya sebatas teman di sekolah. Aku ingat, kau senang sekali menyapaku ketika aku melaluimu. Sapaan yang menurutku sangat sopan.

"Ara..."

Aku kadang hanya menjawabnya dengan anggukan atau senyuman. Hanya satu dua kali aku menjawabnya dengan,

"Iya..."

Entah kenapa, kita sering sekali berpapasan. Maupun itu di tangga sekolah. Karena memang kelasmu dan kelasku tak terlalu jauh. Kejadian ini berlangsung selama satu tahun. Di tahun 2013 kau suka sekali memanggilku.

Pada bulan Desember 2013 aku terluka. Aku patah hati. Aku dibuat hancur oleh orang yang dulu aku sangat sayangi. Semua kepercayaanku dibuatnya remuk dan kemudian hilang. Pada saat itu, kau ada untukku. Kau selalu ada. Facebook. Twitter. Kau ada. Pada saat itu aku benar-benar tak sanggup menjalani semua beban sendirian. Aku berbagi cerita padamu. Kita sering mentionan dan chattingan. Hingga pada suatu sore, kau meminta nomor handphone-ku lewat Direct Message. Sejak saat itu, kita dekat. Dan tepat malam tahun baru aku memberanikan untuk I'm move on and I'm not regret. Aku telah jatuh hati padamu.

Begitu banyak kisah yang tak bisa aku lupakan alurnya. Salah satunya, sebab mengapa aku mencintai sajak dan mulai menekuninya.

Kau memberiku satu kata untuk dibuatkan menjadi sajak indah.

Kopi, kata pertama yang kau beri.

Lalu hujan. Kata ini akibat pemikiran kita yang tiba-tiba sama.

Kemudian, pintu. Aku mengatakan, aku akan menjadi pintu yang setia untuk tuan rumah.

Berbicara tentang pintu. Aku masih menjadi pintu, tuan. Hati ini menunggumu setia. Ia sangat kokoh dan terus bertahan. Pintu sangat merindukan sosokmu. Senyummu dan tatapan hangat itu. Untuk kesekian kali aku bertanya, kau kapan pulang?

Masih banyak lagi kata-kata yang kau beri yang kemudian kujadikan sebuah sajak sederhana. Sampai sekarang aku terus berkutat pada tulisan dan banyak sajak. Terima kasih, kau membuatku menciptakan banyak puisi, sajak, serta tulisan indah lainnya. Tulisan tentangmu -- ia selalu ada jejaknya.

Itu sedikit cerita tentang kau dan aku. Semoga ketika kau membacanya, kau diam-diam tersenyum :)

Wahai hati,
Apa kabar? Masihkah kau kuat? Buktikan cintamulah yang paling setia. Tak perlu takut berjuang sendirian. Di depan sana selalu ada harapan lebih baik, teruslah berdoa.

Di, tak perlu kau ributkan kegilaanku. Beginilah caraku mencintaimu. Kau bilang aku titik, janjilah padaku bahwa mereka hanya koma, spasi, tanda seru, dan tanda tanya. Berhentilah padaku dan kita teruskan kebahagiaan dulu.

Di, aku di sini menjaga semuanya. Aku tak pernah mengizinkan siapa pun menggangguku. Aku menunggumu...

Berjuang untukmu menyenangkan. Karena kamu selalu bisa mengubah keluh, peluh, dan air mata menjadi kekuatan.

Wahai hati,
Bersabarlah, semoga ada hasil yang indah di akhir. Tuhan hanya menunjukkan jalan-Nya yang luar biasa.

Wahai hati,
Berdoalah, semoga dengannya dirimu semakin kuat untuk bertahan. Tuhan hanya menunjukkan bahwa sebesar apa kau berusaha.

Wahai hati,
Tersenyumlah, semoga dengannya dirimu semakin cantik. Tuhan tak menghilangkan bintangmu, bumi hanya sedang berputar.

Bertahanlah, Raa...

Salam,
Raa

22:24 WIB, 27 September 2014

Kamis, 25 September 2014

Perdebatan Aku dan Rindu

"Jangan bermain dengan rindu, adikku tersayang"

Ayolah, aku tak sedang bermain. Aku pun sudah bilang aku tak ingin bermain. Namun rindu terus mengetuk pintu. Aku marah. Aku bukakan pintu dengan tujuan ingin membentaknya.
Ah,
Rindu berhasil masuk. Bodohnya. Ia menerebos begitu saja. Aku sudah berkali-kali mengusirnya.

"Pergilah..." kataku lirih.

Rindu tetap di sana.

Baiklah. Aku tak akan memperdulikannya. Aku tak akan memberi minum. Tak akan kuhidangkan makan. Biar saja. Biar dia bosan dan akhirnya pergi.

Sekali, dua kali aku mengintip dari kamarku. Lihatlah ia masih tetap di sana. Duduk manis dengan anggun, indah, dan dingin. Bahkan aku takut menyapanya.

Detik, menit, jam, bahkan hari sudah dilalui. Rindu masih di sana...

Bagaimana ini?
Rindu kurang ajar!
Tak sopan!

Pada akhirnya, aku memberanikan diri. Satu langkah, dua langkah aku mendekatinya. Semakin dekat. Sangat dekat. Aku memilih duduk di samping kanannya. Apa yang terjadi?

Lihatlah, ia menangis. Aku merasakannya. Begitu pilu. Mengiris. Miris. Emosi.

"Untuk apa kau kemari?" aku mulai pembicaraan.
"Aku ingin bertemu dengan sang tuan"
"Ayolah. Tak usah menemuinya" jawabku tak semangat. "Kau akan tetap merindu sendirian. Kesepian. Tak usah banyak harap" lanjutku.
"Apa bukti kau bisa berbicara seperti itu?" tanyanya. Ia memperbaiki posisi duduknya. Kini aku dan rindu saling berhadapan. Semakin dalam saja rasa pilu ini ketika melihat mata sembabnya yang selalu basah.
"Bagaimana tidak? Kau sering diabaikan. Aku lelah harus membawamu menemuinya. Tak pernah ada hasil. Terlalu sering pengabaian yang kau terima" jelasku, hampir menangis. Hening untuk beberapa saat. Desir angin membuat sedikit tubuh menggigil.
"Dia juga merinduimu" jawabnya singkat. Namun mampu membuatku beku dan kemudian aku tertawa.
"Tidak..."
"Iya. Dia merinduimu"
"Tidak...Tidak mungkin"
"Bukankah hatimu hebat? Selalu memiliki firasat yang selalu benar. Kadang hal yang kau tebak tentangnya selalu terjadi. Seolah kau memiliki kontak batin dengannya. Ketika kau berdoa, hatimu begitu lembut. Kau selalu merasa dekat dengannya bukan? Kau tahu mengapa aku menangis? Aku merasakan semuanya. Sang tuan memanggil. Aku sungguh dekat dengannya"

Aku menangis...

"Tapi maksud dari kejadian lalu apa? Mengapa ia mengabaikanmu?"
"Kau sudah tahu jawabannya. Tak perlu aku menjelaskannya" kata sang rindu meyakinkan.

Aku menunduk...
Sangat dalam...
Tangisku semakin kencang...
Terus menangis pada detik jam,
Dengan angin yang sesekali menyelinap masuk...

"Hei, kau sungguh mencintainya?" rindu mengangkat wajahku. Menatapku lamat. Tidak. Aku tidak akan menjawabnya. Tangisku semakin tak karuan. Aku, aku benar-benar merindukannya. Aku sesak. Sangat sesak.

"Tidak. Aku tetap tidak ingin mengantarmu" jawabku bersama suara sesenggukkan. "Aku takut. Aku terlalu takit. Aku sering merasai cemburu, karena rindu terlalu banyak diabaikan. Kau terlalu banyak diabaikan! Sudah. Hentikan semuanya! Aku perlu waktu untuk semua ini. Kau lihat?" aku menunjuk seluruh ruangan. "Ruangan ini banyak yang rusak. Aku butuh waktu untuk memperbaikinya. Aku akan mengurusmu. Hingga tiba saatnya. Kau boleh tinggal di sini. Sampai si tuan membawa rindu untuk ruangan ini. Dengan begitu semua kembali normal. Kini firasatku, tuan akan kembali. Ya, dia akan kembali. Berbesar sabarlah. Aku tak ingin buru-buru lagi dalam hal ini" aku berusaha tenang. "Ya. Aku mencintainya. Sungguh mencintainya..." butiran kilau jatuh kembali dari mataku.

"Kau ingin minum apa?" tanyaku berusaha tersenyum.

Rindu tak menjawab. Ia hanya membalas senyumanku. Sangat manis.

Salam,
Raa

14:42 WIB, 25 September 2014

Rabu, 24 September 2014

Makna (Hubungan) Tali Tambang

Berkat pembicaanku dengan seorang teman tentang suatu masalah hubungan, tiba-tiba temanku nyeletuk, "Tali  tambang akan semakin kuat jika dibakar". Aku tertarik dengan perkataannya. Apa benar? Aku langsung memutar otak untuk memikirkannya sejenak. Aku terus mencari tahu. Pertama yang aku lakukan mencari pengertian tali tambang itu sendiri. Ternyata ilmu tali temali pelajaran SD.

Pada dasar penyusunannya tali temali ada 3, yaitu:

1. Serat merupakan bagian dasar dari tali. Bentuknya berupa untaian-untaian kecil yang tidak dapat dipisah lagi dengan tangan.

2. Benang merupakan gabungan dari beberapa serat.

3. Tali tambang merupakan susunan atau gabungan dari beberapa benang.

Nah, yang terakhir ini yang membuatku tertarik. Serat menyusun benang, benang menyusun tali. Tali tambang bersifat lentur dan kuat. Dapat aku simpulkam jika dikaitkan dengan suatu hubungan, dan memang tali tambang adalah sebuah hubungan.

Lentur, dalam sebuah hubungan diperlukan kelenturan. Artinya sifat ini menunjukan hubungan tersebut mudah dililitkan dan dibuat menjadi simpul. Simpul adalah ikatan pada tali. Dan semakin banyak simpul akan semakin kuat dan jika semakin ditarik akan semakin kencang. Mengerti tidak?

Lalu sifat yang kedua yaitu kuat. Kuat berarti tak mudah putus. Apa yang sudah bilang tadi di atas. Serat menyusun benang. Benang menyusun tali. Dari beberapa susunan sudah jelas tali tambang ini sangat kuat. Namun bagaimana dengan memotongnya dengan gunting atau pisau? Kembali ke pembicaraan dengan temanku, "Tali tambang akan semakin kuat jika dibakar". Memang benar, ternyata jika tali tambang yang putus lalu kedua ujungnya dibakar akan semakin erat dan kuat.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa dalam sebuah hubungan diperlukan adanya suatu ujian di dalamnya agar keduanya semakin kuat dan erat. Jika sudah ada simpul atau suatu hal yang mengikatnya, maka jika ditarik terus menerus akan semakin kencang hubungan tersebut. Simple tapi membuat hati semangat. Benar?

Semoga bermanfaat. Semangat menyelesaikan masalah dan bertahanlah.

Salam,
Tali tambang,
Ara.

06:04 WIB, 25 September 2014

Firasat

Firasat adalah suatu hal dimana kita berbicara pada hati, pikiran, bahkan jiwa. Ia muncul dengan sendirinya, yang tak enak ia  suka muncul dengan tiba-tiba. Hati pun semakin gelisah, tak tenang, kacau. Apalagi jika firasat buruk? Menebak-nebak tak karuan.

Itu yang selalu kurasakan selama ini. Siapa lagi? Jika bukan tentangmu. Lelaki yang memiliki mata hangat sehangat mentari pukul 7.

Aku baru saja mendapat jawaban dari firasatku belakangan ini. Aku sedih dengan perlakuanmu. Ada apa dengan dirimu? Kau lelah dengan amanah sebagai pemimpin organisasi? Atau kau penat dengan sekolah? Atau kau jenuh dengan suatu hal?
Mungkin ketika setelah kau membaca semua tulisan sederhanaku, kau akan mengira bahwa aku terlalu rumit dengan ini. Tapi ayolah, sepandai-pandainya otak, ia tak akan pernah mengerti hati.

Firasatku benar. Namun jika sudah benar, aku bisa apa? Aku marah-marah padamu? Aku mencaci maki depanmu? Tidak, aku tidak akan lakukan itu. Sia-sia jika aku lakukan itu semua. Biarkan semuanya mengalir, bukankah semua sungai mengalir pada satu tujuan, yaitu laut? Aku hanya perlu menerimanya dan lapang dada. Semoga aku selalu berbesar sabar. Aku tak ingin lelah hati. Karena masih ada yang lebih penting, yaitu bagaimana aku bertahan.

Aku tak ingin lagi ada firasat buruk tentangmu. Aku tak merasa jauh darimu, karena kau masih disini, di hati ini. Detaknya masih sama, mungkin bertambah -- hanya untukmu, Di. Jaga baik-baik hatimu, karena disini aku benar-benar menjaganya. Aku mencintaimu, sungguh. Aku mendoakan keselamatanmu.

Firasatku yang belum terjawab yaitu kamu akan kembali. Kamu akan membuktikan bahwa aku adalah titik. Seperti apa yang dulu kau bilang. Ingat? Kau akan pulang kan, Di? Aku sudah menyiapkan teh hangat untukmu...

Salam,
Ara

22:16 WIB, 24 September 2014

Selasa, 23 September 2014

Selamat Pagi

Selamat pagi. Pagi kesekian dimana kau masih bertahan dengan bisumu. Kau tampak semakin menawan di hati. Dan aku tampak semakin berani berjuang untukmu.

Bagaimana aktivitas sekolahmu 3 hari ini? Aku rindu. Rasanya kelabu jika tak melihat matamu sehari saja.
Sakitku tak kunjung pulih, Di. Aku semakin merinduimu. Kau baik-baik saja kan?

Kapan kau pulang? Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku takut kau benar-benar pergi. Aku sungguh takut kehilanganmu. Aku rindu sapamu. Apakah kau tak merasakan pilunya hatiku saat ini? 

Aku lebih banyak melampiaskan semuanya pada tulisan. Dan kuharap kau membacanya, dan mengerti ini semua.

Di, pagimu cerah disana? Pagiku tidak. Dan tidak akan pernah selepas kau membiarkanku menunggu yang tak pasti. Aku selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatanmu.

Ohya, aku ingin minta maaf. Mungkin beberapa hari ini aku terlalu berani menyebut namamu. Perlu kamu ketahui, aku sungguh lelah menyembunyikan semuanya. Semoga kau mengerti...

Kamu -- yang memiliki mata seteduh dan sehangat mentari pukul 7, semoga salamku selalu kau dapatkan. Entah bagaimana Tuhan menyampaikannya.

Salam,
Raa

06:21 WIB, 24 September 2014

Jumat, 19 September 2014

Diamku Tertawa

Diam,
Diam namun tertawa.
Itu aku.

Diam,
Dalam diam aku memiliki banyak arti.
Arti yang tidak bisa disampaikan sejuta kata.
Arti yang tidak bisa ditulis oleh lautan tinta.

Diam,
Diamku adalah bahagia.
Bahagia karenamu.

Oh diam...

Karena diam aku bisa mengartikan cinta sejati.
Karena diam aku bisa menulis.
Menulis tentang cinta.
Menulis perihal kita.
Menatap awan yang bergerak.
Mendengar kicauan burung.
Merasakan hembusan angin.

Aku menulis diam.
Diam yang penuh makna.
Kusampaikan tulisan ini melalui diam.
Tulisan yang membuatku diam sejenak.

Oh diam...

Biarkan tertawaku tetap diam.
Biarkan bahagiaku tetap diam.
Diam yang penuh warna.

-------------------------

Aku menulis ini saat dekat denganmu. Saat kau tersenyum manis di depanku. Saat kau membuatku bahagia. Aku hanya bisa diam. Diam-diam mengucap syukur telah disandingkan denganmu. Aku lupa tanggalnya, maaf :)

Salam,
Ara