Rabu, 11 November 2015
Kehilangan - cerpen
Sabtu, 07 November 2015
Untuk Masa Laluku
Teruntuk kau yang kuingat berkata tajam melepaskanku. Tertancap pada langkah kakiku, dan kemudian kau paksa berhenti.
Entah sudah berapa kali aku gagal untuk mencinta, dan untuk kesekian kali aku enggan jatuh cinta pada yang lain. Yang perlu kau garis bawahi aku hanya mengingatmu, tidak lagi menginginkanmu. Aku perempuan yang masih waras. Menginginkanmu kembali adalah bencanaku.
Aku sudah cukup gila karenamu. Mencintaimu aku pernah sampai lupa bahagiaku, merinduimu aku pernah hingga airmata meresap ke dalam pipi. Sudah cukup semua, terbaikku kau malah abaikan.
Sesungguhnya kau telah melewati satu tempat dimana kau adalah rajanya. Karena membuatmu terluka dulu sesuatu yang begitu lancang. Merepotkanmu juga dulu bukanlah hak atas diriku. Kau begitu kuprioritaskan; dulu.
Menulisku untuk masa lalu; kesekian kali aku mengingatmu. Kau mungkin yang paling membekas di antara yang lain. Tapi, aku ingin yang lain, bukan dirimu.
Selepasmu tak ada yang cocok masuk menggantikanmu. Terkadang kendur, terkadang kebesaran, benar-benar tak ada yang pas di hati.
Aku bukan masih mencintaimu, tapi aku hanya senang mengenang tentang masa laluku; kamu. Karena untuk mencinta lagi tak semudah membuat teh hangat.
Menulisku untuk masa lalu; sengaja aku tenggelam pada nostalgia. Hingga lupa jalan pulang. Tentangmu selalu mudah kubuat puisi, meski tak ada kamu lagi.
Ditulis pada,
16:01 WIB, 7/11/2015
Tangerang
Ara
Senin, 05 Oktober 2015
(Berusaha) Mengurungmu
Menulismu adalah kegemaranku, tapi kini aku berusaha menghilangkannya.
Rumahmu adalah pulangku, tapi kini aku berusaha lapang, karena kau tak memberi izin.
Tawamu adalah bahagiaku, tapi kini aku berusaha mencari bahagia lain, karena kau mulai samar.
Sikapmu adalah tahu diriku. Abaimu adalah sadarku.
Dan kini aku berusaha mengurungmu.
Entahlah, begitu cepat semua terjadi. Sakit, patah, hancur, mulai terasa di ulu hati. Kau yang awal amat manis, namun sekarang hilang lenyap tanpa permisi. Begitukah semua lelaki?
Aku yang berharap tinggi, atau kau yang memang tak punya hati? Apa mungkin ada perempuan lain yang juga terluka?
Tenanglah, tenang, aku sedang tidak emosi. Tenang...
Lain kali jagalah lisan dan tingkahmu, pikiranmu tak sama apa yang dipikirkan para perempuan.
Lebih baik aku putuskan,
Aku yang terlalu berharap tinggi. Aku yang salah. Aku salah, tuan.
Perempuan ini hanya terluka. Tersayat hatinya. Hati yang sudah disiapkan untuk mencinta dengan sebaik-baiknya. Kuharap masih ada sisa ruang untuk mencinta lebih baik lagi.
Aku sibuk mendoakanmu, kau malah sibuk menyakitiku. Bagaimana sih? Ini kerjasama yang curang!
Malam ini, aku sudah mendoakanmu. Sangat terbaik. Aku tak minta diaminkan, cukuplah diam, Tuhan tahu mana yang terbaik untukku. Baik didekatkan, buruk dijauhkan. Semoga kamu kelak, baik untukku. Mungkin memang bukan sekarang, bisa jadi esok, lusa, atau bahkan beberapa tahun kemudian. Atau mungkin tak sama sekali. Jika iya, pasti aku telah mencintai lelaki yang memang untukku.
Semoga kamu baik, dan mendapat perempuan baik. Seimbanglah dengan perkataan dan tingkahmu. Jangan menebar jala sana sini, nanti ada yang membencimu. Baik-baiklah menjadi lelaki. Kau seperti ini saja, aku masih mencintaimu. Eh, oh iya aku lupa. Aku kan sedang berusaha mengurungmu. Doakan aku, cepat-cepat melupakanmu hehehe. Jika menurut Tuhan baik, pasti Dia membuatku lupa :)
Ditulis pada
5/10/2015, 21:10 WIB
Tangerang
Ara
Selasa, 29 September 2015
Hanya Rindu
Orang yang paling diam, paling tenang, padahal sejatinya ia meronta sunyi dalam keramaian. Itu rindu.
Orang yang paling ceria, paling gemar bercanda ria, padahal sejatinya ia memiliki hati yang harus dihibur. Itu rindu.
Orang yang paling bijak, paling senang memberi nasihat, selalu menjadi tempat bercerita, padahal sejatinya ia butuh sandaran yang kokoh di sampingnya. Itu rindu.
Hanya rindu. Tenanglah, hanya sebongkah rindu sederhana. Ia tidak beringas.
Kudapati semua tulisanku sendirian. Seperti hilang nyawa semenjak kau tak lagi kutemui di malam hari. Ternyata aku pun merasa sendirian. Merasa sepi. Aku ingin kamu.
Hanya rindu. Ah, aku rindu. Sungguh. Aku tak ingin bercanda. Aku benar rindu, tuan.
Mencintaimu dengan sembunyi tak pernah menyenangkan. Merindumu pun begitu, harus sembunyi. Tak ada yang menyenangkan. Sayat pisau selalu menggores hati. Pelan namun tepat.
Aku sendiri, diteriaki sepi. Dibelenggu rindu. Memejam mata, bayangmu jelas. Menghirup kenangan. Pilu. Aku rindu...
Zikir cinta tak pernah henti kulantunkan. Berusaha sekuat mungkin menghilangkan wajah dari khayalku yang tak menginginkan keberadaanku. Tapi, aku masih ingin kamu. Bagaimana dengan rindu?
Tuan, kau tak merasakan apa-apa? Saat aku mencuri-curi pandang, saat aku memandangmu lamat, saat aku mendapatimu tertawa dengan selainku. Kau tak merasakan hadirku? Ya Tuhan, sesulit inikah menjaga cinta tetap diam? Rindu ini sederhana, namun tak biasa. Entahlah, harus kusebut apa rindu ini.
Maafkan aku yang terlalu cepat mengartikan semua perlakuanmu, aku tidak menyadari, bahwa kamu pun ke yang lain juga seperti kau memperlakukanku. Tapi percayalah, aku rindu itu. Bukan, bukan merindui yang itu. Aku merindu firasatku yang tak ada perempuan selain diriku. Merindui firasat bahwa kau memperlakukanku paling istimewa.
Hanya rindu dan harus kutuliskan. Ingin kusampaikan, tapi tidak. Aku mengurungkan rindu ini, hingga semuanya sudah siap. Aku akan jaga kesederhanaan rinduku ini yang semakin tak terlihat, terbelakang, terkoyak sepi, menjerit sunyi.
Ditulis pada,
30/09/2015, 05:44 WIB
Tangerang
Ara
Selasa, 22 September 2015
Lebih dari itu...
Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari patah hati?
Bertahan untuk tidak mengungkapkan. Bahkan lebih dari itu.
Kau tahu apa yang lebih memilukan dari kehilangan?
Bertahan untuk tidak jujur dari sebenarnya. Bahkan lebih dari itu.
Kau tahu apa yang lebih menyedihkan dari kerinduan?
Bertahan untuk tidak bicara, dari cinta yang seharusnya dibicarakan. Bahkan lebih dari itu. Sekali lagi, sakitnya melebihi dari itu.
Seharusnya aku berhenti menebak isi hatimu, dan mungkin juga aku harus berhenti dari segala tentangmu. Tapi hati ini terus meronta menyebut nama yang di hatinya tak ada namaku.
Kau indah, dan aku jauh dari keindahan. Memintamu seperti aku tak tahu diri pada Tuhan. Meminta ciptaan-Nya yang sedangkan diri ini begitu tak pantas bersanding denganmu.
Bertahan pada suasana yang tidak baik-baik saja. Membuat aku meronta kesakitan di balik rahasia. Sakitnya begitu memilukan. Ini semua dalam masalah. Hati ini dalam masalah. Semua tidak baik-baik saja, tuan. Aku kesakitan. Sakitnya lebih dari itu...
Jangan terbawa perasaan jika kau membaca tulisanku yang satu ini. Perempuan ini senang menghiperbolakan sesuatu. Seiring waktu kau akan terbiasa dengan ke-melankolisan-ku. Perempuan ini hanya senang menulis apa yang sedang ia rasakan. Perempuan ini menyadari satu hal, "Jangan terlalu berharap. Jika hari ini membahagiakan, bisa jadi esok hari mengecewakan. Tetaplah menjadi seorang yang selalu bersyukur dan ikhlas terhadap sesuatu yang terjadi".
Adalah mencintaimu; bahagia atau kecewa adalah salah satu bentuk yang harus kuikhlaskan. Tuhan selalu mempunyai alasan, dan mencintaimu adalah anugerah dari Tuhan.
Mencintaimu dalam diam, memang menyakitkan. Bahkan lebih dari itu. Tetapi tenanglah, perempuan ini selalu tahu cara mengendalikannya, yaitu dengan sebuah doa sederhana, karena itulah penghubung terbaik dalam kamus kehidupan.
Ditulis pada,
22/09/2015, 17:26 WIB
Tangerang
Ara
Sabtu, 19 September 2015
Mengemas Kembali
Kamis, 17 September 2015
Aku (tak) Kalah
Aku seperti bumi dan kau matahari.
Aku seperti ilalang dan kau rumput segar.
Aku seperti lumpur dan kau air jernih.
Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang.
Aku mencintaimu sudah begitu tenang.
Jangan kau buat aku semakin kunang.
Tidak memiliki, tapi seperti ada yang hilang.
Kau semakin hari selalu melayang, hingga membuat kepalaku kepayang.
Kau melekat erat pada bayang.
Sungguh tak ingin kelak kau hanya menjadi bagian kenang.
Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang. Ini bukan perlombaan. Ini bukan kompetisi memenangkan sesuatu. Tenanglah, aku hanya merasa kalah. Belum benar-benar kalah.
Seperti ada yang menghantam perlahan. Layaknya sembilu yang merobek pelan pada sisi hati. Sesuatu yang entah apa itu namanya.
Mengapa mencintaimu bisa sekhawatir ini? Sepandai-pandainya manusia berkata tak boleh egois. Hati ini selalu tak mau merasa kalah. Tapi aku tak ingin menang. Ah, apa ini?
Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang.
Ini hanya bagian orasi hati, yang ingin sekali kuucap kencang.
Seperti ada yang sesak dan sesuatu yang menahan. Memaksa. Sangat pilu.
Tenang.
Sabar.
Dalam doa.
Mencintaimu begitu sembunyi. Sunyi. Sepi. Dan tahu diri.
Biarlah aku sibuk mendoakanmu, dan kamu semoga bersedia untuk mengaminkan.
Tetaplah tenang, aku baik-baik saja. Semoga ini hanya sebatas perasaan. Aku tak kalah. Semoga memang tak kalah.
Seperti inilah aku mencinta. Tetaplah tenang. Menulis adalah kegemaran. Jadi tak usah dipikirkan.
Adalah kamu; kerinduan yang menjadi candu di setiap tulisanku yang tak syahdu. Aku memang tak berjanji akan selalu menulismu, tapi kau berhasil menjadi abadi dalam tulisanku. Aku mencintaimu.
Ditulis pada
17/09/2015, 19:44 WIB
Tangerang
Ara
Selasa, 15 September 2015
Aku Bukan Teroris
Bisa kita berbicara empat mata, sayang? Sedikit menjelaskan bahwa, aku bukan teroris. Iya, aku bukan teroris. Aku hanya perempuan berkerudung besar.
Jadi, kau sebelumnya sudah tahu perintah menutup aurat? Jika sudah. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberitahumu. Jika belum, mari kuajak sedikit membuka Al-Qur'an.
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya),..." (An-Nur: 31)
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu,..." (Al-Ahzab: 59)
Sudah kau membacanya, sayang? Sungguh, kerudungku hanyalah kain panjang yang menutupi mahkotaku hingga menjulur ke bawah. Adakah ciri-ciri teroris dariku?
Aku hanya perempuan akhir zaman, yang ingin patuh pada Pencipta. Salahkah aku mengenakan kain selebar ini?
Aku bukan teroris.
Sungguh, hatiku sangat teriris.
Aku bukan teroris, apalagi anggota ISIS. Tak ada bau mistis di perempuan sepertiku yang melankolis.
Sekali lagi,
Aku bukan teroris. Jangan buat aku menangis, hingga meringis.
Aku mohon jagalah lisanmu yang sadis. Aku bukan teroris.
"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat" (HR. Muslim)
Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, Allah ada bukan hanya saat sedang shalat saja. Tetapi Allah ada di setiap waktuku. Maka begitu tidak sopan jika tidak menutup aurat.
Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, tujuan akhir hidup bukan hanya cukup di dunia saja. Tetapi di kehidupan berikutnya. Dimana tak ada toleransi lagi. Salah tetap salah. Dosa tetap dosa. Siksa tetap siksa.
Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, merayu Allah bukan hanya dari shalat saja. Tetapi dari salah satu kewajiban yang muslimah suka lupakan, menutup aurat. Jika sudah wajib, maka tak ada kata 'belum siap'. Lebih cinta dunia atau Penciptanya?
Aku bukan teroris. Aku sama seperti perempuan lain, yang benci dengan kekasaran. Aku perempuan normal.
Aku bukan teroris. Aku tidak paham cara membidik senapan. Aku tidak tahu cara mengebom sebuah gedung. Aku benar-benar bukan teroris.
Apa yang membuatmu aneh melihatku? Pakaian serba hitamkah? Maafkan aku, jika aku menakutimu. Hitam hanyalah warna kesukaan.
Sayang, maukah kau sedikit berpikir? Bahwa ini hanyalah sebuah perintah dari-Nya. Aku pun jauh dari sempurna. Akhlakku berantakan. Hafalan suratku tidak teratur. Sungguh jauh dari shalehah.
Aku hanya perempuan akhir zaman, yang ingin terus memperbaiki diri. Dan sekali lagi, aku bukanlah teroris.
Ditulis pada
15/09/2015, 22:17 WIB
Tangerang
Ara
Senin, 14 September 2015
Sembunyi
Tuan, akan kupastikan kau tak akan pernah tahu persembunyiannya dan akan kupastikan dia tetap dapat melihatmu dari persembunyian.
Adakah kau tahu lelaki?
Ada seorang perempuan yang rajin sekali melirik matanya ke arah kursimu.
Ada seorang perempuan yang cekatan menoleh ke arah kursimu kala kau tertawa. Senyumpun sepertinya perempuan itu tahu. Seperti ada energi yang menariknya.
Ada seorang perempuan yang memperhatikanmu kala kau berbagi cerita pada selain dirinya.
Adakah kau merasakan sesak hatinya? Adakah kau merasakan hadirnya? Adakah kau merasakan tangisnya yang tak bersuara itu?
Tuan, akan kupastikan kau tak akan pernah tahu persembunyiannya. Persembunyiannya yang paling nyaman. Dimana dia diam-diam melihatmu seraya ucap doa yang tak kunjung henti.
Perempuan itu selalu sembunyi. Dia ada di sampingmu, di belakangmu, di depanmu, dimanapun, dia ada. Dan kala kau hilang dari pandangannya, perempuan itu selalu mencari.
Pada sembunyi; ada cemburu yang ia ceritakan.
Pada sunyi; ada cinta yang ia utarakan.
Pada ramai; ada tertawa yang ia perankan.
Tetaplah tak sadar jika diperhatikan. Ia tetap ingin dalam sembunyi, dalam sepi, dalam sunyi.
Catatan kecil untukmu: Jangan berusaha tahu persembunyiannya. Jangan banyak bertanya. Fokuslah pada bahagiamu. Ia sedang dalam proses menantimu dengan sebaik-baiknya menanti.
Ditulis pada,
14/09/2015, 22:28 WIB
Tangerang
Ara
Selasa, 08 September 2015
Cinta Diam-Diam
Cinta;
Sakit jadi sehat.
Lemas jadi semangat.
Kantuk jadi larut.
Sedih jadi bahagia.
Jahat jadi baik.
Kasar jadi lembut.
Marah jadi ramah.
Hitam jadi putih.
Dan,
Cinta; kamu.
Sesederhana itu mungkin arti cinta. Seperti manusia idiot yang sedang bahagia di antara manusia yang sedang berduka atau manusia gila yang sedang tertawa di antara manusia yang sedang menangis. Adakah kau seperti ini? Itu aku. Hal ini tak kubuat-buat. Tapi suasana hati yang memaksaku untuk idiot dan gila.
Kata anak SD, seperti pandangan pertama. Tapi jika kata mahasiswa, seperti ada yang berdemonstrasi. Memerintahkanku untuk jatuh cinta lagi. Dasar bodoh! Mana ada jatuh cinta dibuat-buat? Sebelum diperintah untuk jatuh cinta, aku sudah berada dalam kubangan. Jatuh. Utuh. Seluruh. Menyatu. Sungguh.
Cinta ini diam-diam. Tak banyak mau. Tak banyak tindakan. Tak banyak ucapan. Jadi, cinta ini diam-diam, akan tetap diam, sampai Tuhan mengizinkannya untuk tetap diam.
Cinta ini akan tenang. Ia lebih dulu melangit di antara gumpalan awan dan bintang-bintang. Indah di antara warna pelangi. Menawan di antara Maha Cinta dan kamu.
Mendengar tawanya, duniaku hampir 100% sempurna. Bunyinya seperti suatu melodi yang mengalun indah dekat telinga. Seperti ribuan kata yang selalu kuhiperbolakan. Hampir sempurna.
Tuhan, cintaku ini diam-diam dan kupikir Engkau tahu dari awal. Sekarang ini, aku mulai sibuk menyebut namanya dan tidak lagi menyebut nama yang lain. Ternyata benar, cinta suatu hari akan datang bertamu di ruang hati dan berharap akan menetap satu atap pada satu rumah hingga ke Surga.
Kematian rasa sudah hilang. Tutur katanya yang sopan membasmi habis kematian itu. Ini bukan sesuatu hal yang cepat, tapi aku hanya merasa, bahwa kamu tepat sekali klop pada hati dan terkunci di dalamnya.
Tak ingin gegabah, aku memintamu hanya pada Yang Punya hatimu. Tak melalui kamu ataupun yang lain. Karena setelah kejadian datangnya cinta ini, aku mengerti. Bahwa Tuhan selalu tepat waktu dalam urusan cinta.
Tulisan ini akan aku akhiri dengan, bahwa aku akan mencintaimu dengan tenang dan aku putuskan, aku akan tetap diam, sampai kamu memintaku melalui Ayahku.
Ya, cinta ini diam-diam.
Ditulis pada,
09/09/2015, 10:35 WIB
Tangerang
Ara
Jumat, 31 Juli 2015
(Bukan) Mati Rasa
Sepertinya mengerikan jika rasa sudah mati. Menulisnya saja seperti hal yang mitos. Rupanya, kini aku sedang mengalami. Sebentar, biar kuperjelas. Ini (bukan) mati rasa. Hanya tak merasakan apa-apa ketika dia datang kembali lalu pergi lagi. Seharusnya aku terluka. Tapi ini tidak. Seperti tak ada kesakitan dan hasrat ingin menangis.
Ini (bukan) mati rasa, sayang. Tak ada rasa ingin tahu kabarmu. Tak ada rasa peduli harimu. Ah, ini benar-benar tak ada cinta setelah kau tancapkan beberapa jarum biadab di hati.
Sudah ratusan hari kulewati tanpamu. Seratus pertama, aku masih sangat menginginkanmu. Seratus kedua, aku masih sangat sangat mencintaimu. Seratus ketiga, aku masih sangat peduli mencari kabarmu. Seratus keempat, tak ada yang mengingatkanku bahwa seharusnya aku masih mencintamu. Hingga detik ini aku lupa dan tak ada yang mengingatkan sampai mati rasa. Awalnya, aku berterima kasih namun tiba-tiba aku resah. Lantaran khawatir...
Aku ingatkan. Ini (bukan) mati rasa. Tak ada seorang pun yang mampu menemukan kunci hati yang sempat kubuang. Entah kemana. Aku tak bisa mencinta lagi, tak bisa percaya lagi pada lisan kaum Adam, tak ada lagi kesempatan. Aku tak tahu sampai kapan...
Aku seperti merindu seseorang, tapi tak tahu siapa yang sedang kurindu. Aku seperti mencinta seseorang, tapi tak tahu benarkah ia yang kucinta. Aku seperti menginginkan seseorang, tapi tak tahu apa ini benar atau sekadar nafsu.
Aku mungkin tak mati rasa. Hanya belum menemukan. Sampai malam ini pun, aku takut memutuskan untuk membuka hati.
Fase terbahaya; mati rasa. Seperti kepekaan hati yang putus tiba-tiba. Resah.
Bahkan untuk menulisnya pun susah. Mati rasa.
Ditulis pada
31/07/2015, 23:12 WIB
Tangerang
Ara.
Minggu, 05 Juli 2015
Berbagi Kekuatan(ku)
Jika membaca judul, aku sungguh bukan perempuan terkuat.
Aku masih menangis, ketika ada yang menyakiti.
Aku masih sulit mengikhlaskan, ketika milikku direbut.
Aku masih belum penyabar, ketika aku menunggu terlalu lama.
Dan, tak selamanya aku bisa menyenangkan hati banyak orang.
Tapi, aku punya satu kekuatan yang tak bisa dikalahkan apapun; kekuatan dari-Nya.
Aku memang masih menangis, tapi aku tahu caranya menghapus airmata.
Aku memang masih sulit mengikhlaskan, tapi aku tahu Tuhan pasti menggantinya.
Aku memang masih belum penyabar, tapi aku tahu menunggu pun pasti ada hikmahnya.
Dan, ternyata kekuatanku juga berasal dari menyenangkan hati banyak orang. Maka, aku akan terus berusaha...
Satu dalam benakku,
Aku tak ingin menyimpan kekuatan ini sendiri, aku harus berbagi.
Sederhana saja. Ketika ada yang menangis, sulit mengikhlaskan, dan tidak penyabar, aku harus hadir di sampingnya.
Bukan, bukan ingin menjadi pahlawan.
Ada yang perlu diketahui,
Orang yang sedang "kacau" hanya butuh pertanyaan, "kau ingin bercerita denganku?". Sesederhana itu menyenangkan hati seseorang.
Lagi-lagi bukan, bukan ingin menjadi pahlawan.
Orang yang sedang "kacau" tidak butuh banyak saran. Hanya butuh pendengar yang baik bahkan setia dan kemudian pelan-pelan menyadarkan bahwa bumi tak seluas kamarnya saja.
Sekali lagi bukan, aku bukan ingin menjadi pahlawan.
Orang sedang "kacau" tidak butuh yang bertele-tele. Hanya butuh uluran tangan dan kemudian yang mampu mengingatkan bahwa Tuhan selalu telat waktu dalam perihal kebahagiaan.
Semoga segala kekuatan selalu melekat dalam dirimu.
Mmm,
Kau ingin berbagi cerita denganku? Aku ada segelas teh gratis untukmu :)
Ditulis pada
5/7/2015 11:47 PM
Ara, Tangerang
Kamis, 25 Juni 2015
Gemar Menulismu
Kita memang pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari.
Kita memang pernah ingin mencoba, sebelum akhirnya dijauhkan.
Kita memang pernah saling menguatkan, sebelum adanya pengabaian.
Izinkan aku menulis tentangmu lagi...
Beberapa hari lalu, kau berkata bahwa sudah move on dari masa lalu. Kabar bahagia yang begitu amat kutunggu. Semoga tak sekadar wacana, ya, tuan...
Tapi bagiku, move on atau belum move on, tak masalah. Semoga hidupmu selalu tenang dan bahagia.
Entah...
Aku amat gemar menulismu.
Mungkin karena dulu kau pernah membuat jejak (sedikit) dalam hariku. Ketika kau baca ini, pasti kau akan cepat merasa bahwa tulisan ini bercerita tentangmu dan jangan lupa doakan aku juga agar cepat move on dari masa lalu. Aku ingin sepertimu hehe :)
Oh iya, kau juga sempat memposting ini
"Di balik orang yang susah move on, ada mantan yang hebat. Dan di balik orang yang berhasil move on, ada orang baru yang lebih hebat"
Sepintas aku langsung tersenyum membacanya. Semoga orang barumu itu tak merasakan fase kegagalan move on mu, ya :p
Aku yakin, orang baru itu benar-benar hebat dan mampu membuatmu nyaman di setiap harinya. Kau memang pantas mendapatkannya.
Sepertinya, aku sangat mengagumi sifat hatimu. Kita berkenalan memang sangat singkat, tapi aku merasakan di setiap detiknya kalau kamu begitu tulus. Tadinya, aku ingin bilang ini secara langsung. Tapi aku takut kamu kepedean, jadi lebih baik aku tulis. Aku cari aman saja.
Aku memang tak ada di hatimu, dan mungkin kamu juga tak ada di hatiku. Tapi segala tulisan begitu lancar jika mengingatmu.
Jika berbicara tentang move on, setelah aku berdoa di waktu maghrib. Aku dapat pikiran bijaksana agar selalu berbaik sangka pada Tuhan.
1. Orang yang susah move on itu diselamatkan. Karena Tuhan menjaga kita agar tidak disakiti oleh orang baru.
2. Orang yang susah move on bukan berarti tak bisa lepas dari masa lalu. Karena Tuhan menjaga hati kita agar tetap satu. Siapa tahu orang yang susah di-move on-in itu adalah jodoh kita. Who knows? :p
3. Orang yang susah move on itu hebat. Karena Tuhan melatihnya setiap hari agar tetap sabar dari rasa cemburu dan rindu yang besar.
Begitu banyak "karena" mengapa Tuhan tak membantumu dari move on. Dan karena berbaik sangkalah yang paling menenangkan. Juga akan ada "karena" yang lain jika berhasil move on. Misalnya kamu. Mungkin memang bukanlah dia yang akan menjadi teman hidupmu. Aku turut bahagia kau menemukan orang baru.
Jangan ada lagi kegagalan move on, ya. Kamu terlalu istimewa.
(Sahabat) perempuanmu,
Ara
Ditulis pada
25/6/2015 09:58 PM
Tangerang
Jumat, 19 Juni 2015
Kekuatan Kecil
Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali satu tangisan terakhir.
Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali terakhir berharap sesuatu yang hilang untuk kembali.
Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali terakhir aku bertanya kabar pada jiwa yang sudah jauh.
Bukan menyerah. Sama sekali bukan. Tapi cinta diam-diam ini dan semesta yang sekian lama bermusyawarah telah menemukan titik hasil. Semesta meminta tubuhku untuk berhenti mengingatnya, menulis tentangnya, dan mencintainya.
Seseorang di masa lalu itu harus bahagia tanpaku, tak boleh terganggu atas keberadaanku, tak boleh terbebani atas sikapku. Maka semuanya (tak) akan baik-baik saja.
Tuhan mungkin bosan mendengar namanya, maka Ia memberiku beberapa isyarat untuk lebih menjauhinya.
Selama ini lelaki itu kuanggap sebagai rumah, rupanya aku tak menyadari, dia bukan rumah bersetifikat. Tapi bodohnya aku, mengapa tak lantas pergi?
Beberapa musim terus berlalu dan aku masih berkubang di dalamnya. Bukan karena tak ingin pergi bersama yang lain, aku hanya malas memulai semuanya dari awal bersama orang lain yang menunda kesakitan berikutnya.
Seharusnya aku menyadari, lelaki di masa lalu itu sudah bersama seorang baru yang telah membuatnya jatuh hati. Maka aku salah jika terus menanti. Biarkan waktu yang membuatku beranjak dari kubangan itu. Aku hanya sedang menikmati rasa yang ada, yang mungkin rasa itu akan segera mati. Ya, sangat segera.
Sebelumnya, aku berniat untuk mencintai diam secara hebat, tapi nyatanya tubuhku tak cukup kuat jika harus menelan beberapa beling yang ia lempar perlahan. Ketika masa lelah yang selama ini kutunggu, akhirnya mendarat tepat malam ini, bersamaan abai yang berulang-ulang datang darinya. Beruntung, logikaku cepat berputar. Aku memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya terbang bebas.
Untuk segala doa, ia masih setia menjagamu. Dari jauh, sangat jauh. Sekarang, hanya ketenangan yang ingin kumiliki, bersama tulisan-tulisan usang masa lalu, dengan bumbu keikhlasan yang besar selalu. Semoga selalu ada harap untuk masa yang akan datang pada lapangnya dadaku.
Ini sebagian kekuatan kecil untuk sekadar tak mengingatmu.
Tangerang
19 Juni 2015, 22:52 WIB
Aravinda Kusuma Arrafah
Kamis, 18 Juni 2015
Sesak Nafas
Merinduimu amat gejolak, terlalu sering diabaikan dengan galak; sesak nafas.
Mencintaimu dengan persembunyian terhebat, di hati dan pikiran yang selalu berdebat; sesak nafas.
Menangis menahan cemburu, dengan segala luka yang memburu; sesak nafas.
Semakin sakitnya sebuah kenangan, berbanding jauh dengan kenyataan; sesak nafas.
Tuan, mengapa sesesak ini memperhatikanmu?
Menyimpan segalanya sendiri, tak jarang membuatku emosi.
Membuat semuanya terlihat baik, tak jarang membuatku munafik.
Aku pernah berniat melupakanmu, sekadar ingin mengikutimu yang lebih dulu melakukannya, tapi ternyata aku tak sepandai kamu.
Aku pernah berniat meninggalkanmu, lagi-lagi sekadar ingin mengikutimu, tapi langkahku justru selalu mencari langkahmu.
Aku pernah berniat menahanmu, kala kamu ingin pergi meninggalkanku, tapi siapa aku? Aku hanya menjawab, "Iya, tak apa".
Terlalu banyak perkataanmu yang selalu menjadi kekuatanku sekarang. Kamu tak pernah tahu kan?
Terlalu banyak janji yang kau beri, yang pada akhirnya tak ada satu pun janji yang aku percaya. Kamu tak pernah tahu, kan?
Terlalu banyak mengingatmu, tanpa melakukan apapun selain berdoa. Kamu tak pernah tahu, kan?
Sudah-sudah, semuanya juga kau tak akan pernah tahu. Bahkan ketika aku menulis ke-sesak nafas-anku ini. Mungkin kau tak mau tahu.
Beruntungnya dirimu selalu menjadi sumber tulisanku. Kelak jika bukan kamu yang bersanding denganku, aku akan bercerita pada anak cucuku :)
Aku hanya ingin mengaku, bahwa sampai detik ini kamu yang selalu menjadi tokoh utama dalam tulisanku. Kau tahu artinya? Ya, aku masih mencintaimu. Dengan segala sesak nafas yang kusimpan.
Ara
Tangerang
18 Juni 2015, 22:47 WIB
Minggu, 14 Juni 2015
Nggak salah, kan?
Beberapa hari lalu, ada seorang perempuan yang sedang gemar melamun. Begini maksudnya, dia ingat kejadian-kejadian lalu denganmu. Kamu yang tiba-tiba datang di kehidupannya. Saat seseorang di masa lalunya pergi meninggalkan tombak. Perlahan mengubah harinya. Mana mungkin tidak? Sapamu tak pernah alpa, tawa selalu diberikan setiap hari, tentu dia merasa nyaman. Serta perhatian yang kamu berikan dan bahagia yang kamu janjikan. Perempuan mana yang tidak suka diperlakukan lelaki sepertimu. Kamu baik dan sangat menyenangkan menurutnya.
Begitu mudahnya untuk menyebut, "aku nyaman denganmu". Padahal sebelumnya dia tak pernah berkenalan dan bertemu.
Panggilan sayang yang pernah kamu lakukan membuat dia bertanya simple tapi bermakna indah. Kamu mencintai dia? Komunikasi yang tak pernah putus, telepon hingga larut malam, dan beberapa jadwal untuk bertemu, semakin mudah dia menyimpulkan ini cinta. Tapi memang benarkan kamu tertarik dengannya? Kamu juga sempat bilang ke dia, bahwa kamu sedang pendekatan dengannya. Jadi, ya, dia tak salah. Itu adalah cinta.
Tapi, singkat. Kamu menghilang. Kamu mempermainkan dia. Dia kira kamu berbeda, ternyata kamu hanya sepintas lewat di depannya. Dia tak salah kan mengartikan sapa, tawa, serta senyummu yang lalu? Mengapa kamu dulu sekepo dan sangat intens menanyakan banyak hal padanya? Ternyata kamu hanya penasaran. Kasihan, dia terlalu mendalami rasa itu.
Tak apa, dia paham dengan situasimu. Lain kali, jangan perlakukan hal semacam itu pada perempuan lain. Dia takut mereka minta pertanggungjawaban atas kelakuan baikmu yang telah membuat perempuan jatuh hati. Dia takut perempuan lain tak mengerti kondisimu. Yang pada akhirnya justru berujung caci maki.
Dia nggak salah, kan?
Mungkin kamu merasa sedang menjadi tokoh utama di beberapa tulisannya. Bacalah dengan hati, agar sampai tepat pada hati. Semoga kegagalan move on mu segera berakhir.
Salam,
Dia.
14 Juni 2015, 21:33 WIB
Senin, 08 Juni 2015
Rahasia 'Kita'
Tuan, rupanya tak ada satupun yang tahu tulisanku bermuara kemana. Apakah kamu juga termasuk orang yang tak tahu? Atau tak mau tahu? Atau bahkan menjadi orang yang tak ingin peduli? Tak apa, aku mengerti.
Jika kamu membaca satu per satu tulisanku. Dan kamu merasa itu semua adalah tentangmu, mungkin iya. Atau jika kamu bisa jadi orang yang kegeeran. Tapi jika benar-benar kamu merasakannya, baiklah akui saja, itu semua memang tentangmu.
Aku peringatkan, biarkan 'kita' saja yang tahu tulisanku untuk siapa. Jangan biarkan mereka tahu. Aku benci jika mereka mulai sok tahu perihal melupaku karena luka (yang kau beri).
Aku ini perempuan yang pandai melupa. Melupa bagaimana memperbaiki bahagia yang sebenar-benarnya tulus bahagia. Melupa jika lembaran rindu terabaikan. Melupa jika aku menangis. Melupa jika aku meringis. Tak apa, Tuhan tak (pura-pura) diam. Aku yakin, semua akan terbayar pada satu titik dimana aku menemukan satu pintu untuk kebahagiaan, bersama cinta yang kuharapkan.
Sekarang, aku titipkan satu hatiku padamu. Jika kau ingin cintai atau lukai (lagi), terserah padamu.
Salam,
Ara
6 Juni 2015, 20:18 WIB
Minggu, 17 Mei 2015
"Bagaimana aku bisa kuliah?" pikirku.
Hidup; sebuah pilihan. Lelah meraih kesuksesan atau lelah menganggur dalam kemiskinan. Semua terserah manusia yang pada dasarnya telah digariskan kesuksesan oleh Tuhan.
Aku, perempuan yang terus berkutat dengan "bagaimana aku bisa kuliah?".
Aku yang baru saja lulus dari SMA Negeri 56 Jakarta Barat, menginginkan jenjang pendidikan yang berjalan mulus. Aku termasuk perempuan yang mejunjung tinggi sebuah pendidikan, dan pentingnya pendidikan untuk perempuan. Perjuangan tak hanya sebatas kata-kata, tapi sebuah aksi nyata. Belajar dengan gigih serta doa yang selalu menyertai, misalnya.
Liburan panjang menyambutku dengan pintu terbuka lebar, dihabiskan dengan terus berdiskusi tentang nasib masa depanku bersama orangtua. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Mempunyai beberapa tanggung jawab besar untuk orangtua dan dua adik laki-lakiku. Kita bisa membentuk masa depan yang baik kalau smart mengatur strategi dan tekad yang kuat.
Aku menulis ini, semata-mata untuk membuat energi semangatku terus membara.
Aku menggilai buku-buku motivasi dan cerita orang-orang sukses. Mereka pun dilatih dari tahap nol dan beberapa ujian yang menguji ketabahan. Aku yakin, sesuatu yang dilakukan hari ini sangat berdampak untuk masa depanku. Kita harus yakin kondisi akan berubah, jika kita terus gigih dan berdoa. Tak ada kata malas dalam kamus hidup. Aku adalah pribadi yang terbuka, tapi tidak untuk masalahku. Biar kuolah sendiri hingga menemui titik kecerahan.
Aku ingin kuliah. Beruntung orangtuaku yang masih mampu menyelamatkan masa depanku. Maka sungguh aku tak bersyukur jika aku tak pernah berusaha. Tapi ketahuilah, Tuhan tak pernah (pura-pura) diam untuk hamba-Nya yang senantiasa berikhtiar dan berdoa. Ingat, selalu utamakan kejujuran. Tuhan sangat menyukai orang jujur. Gapailah restu-Nya.
Menghabiskan masa liburan dengan soal-soal masuk perguruan tinggi negeri. Minimal 4 jam dalam sehari, bagiku sangat menyenangkan dan earphone yang menempel pada telinga. Serta tak pernah lupa berdoa. Dasar dari keberhasilan perjuangan adalah ketabahan dan kegigihan. Pikiran memengaruhi tindakan. Selalulah berpositif. Jangan pernah takut akan hari esok jika kamu mampu memenangkan hari ini dengan semangat yang luar biasa. Tuhan memandangimu.
Jangan kau pikir aku tak pernah merasakan jenuh, tapi aku berusaha menciptakan melodi indah di tengah kejenuhan. Terus mencari energi semangat dalam diri. Melawan mood yang buruk.
Pendidikan begitu penting dalam hidupku. Sering aku melamun, akan jadi apa aku di masa depan? Akan kubawa kemana kesejahteraan keluargaku kelak? Bagaimana aku bisa memiliki finansial yang 'banyak' sehingga aku mudah beramal? Bagaimana aku membahagiakan dua malaikat yang turut memperjuangi kesuksesanku, Ayah dan Ibu? Ah, aku masih berumur 18 tahun, begitu semangat berjuang untuk bahagia.
Aku rayu Tuhan, dekat dengan Tuhan, berdoa, berdoa, dan berdoa. Harus sukses! Aku harus kuliah.
Jika aku bisa melawan malas, kenapa kalian tidak? Aku berdoa semoga kamu yang sedang berjuang selalu tabah melewati kesulitan. Tualah dengan sejahtera.
Salam,
Ara
17 Mei 2015, 20:08 WIB
Rabu, 06 Mei 2015
Jatuh Cinta Lagi
Tahukah rasanya jatuh cinta lagi? Ketika luka masa lalu terhapuskan begitu saja, rasa sakit yang menggerutu terhenti tiba-tiba, dan kesedihan yang terlupakan.
Tahukah rasanya jatuh cinta lagi? Ketika hidup lebih berwarna-warni dari biasanya, kebahagiaan yang selalu juara, dan tawa yang melangit setiap hari.
Tahukah rasanya jatuh cinta lagi? Ketika puisi indah menjadi pencurah segala isi hati, hari yang dipenuhi nada cinta, dan malam yang selalu pagi.
Aku,
Telah jatuh begitu dalam tepat pada hatimu.
Aku,
Yang telah sudah kau tarik mendekati hatimu.
Aku,
Yang telah lupa dengan masalah masa lalu.
Kau mengajariku, bahwa ternyata mudahnya jatuh cinta, untuk lepas dari masa lalu. Aku ingin mencintaimu dengan tenang, tanpa gegabah dan tanpa kecemasan. Mencintaimu dengan program kerja yang lebih baik. Tidak menyakiti hatiku dan juga hatimu.
Kau, yang jauh dari hariku, yang asing dengan hidupku, datang mengundang tawa dan canda.
Kau, yang tak pernah kulihat wajahnya, yang tak pernah kudengar suaranya, datang mengundang hati yang kian rapuh.
Perkenalan yang sederhana, tema dalam catatanku kala itu.
Aku berusaha menebak wajahmu. Berusaha mengukir senyummu sekuat mungkin. Berusaha menebak suara indah dan tawa renyahmu. Aku ingin bertemu, pikiranku kala itu melesat begitu saja.
Tak ada rasa takut kenal denganmu, hanya ada rasa, "Ayo cepat, aku ingin bertemu".
Setelah aku merasakan jatuh berkali-kali dan hampir lupa caranya bangkit, kau mengulurkan tangan, begitu ramah.
Ah, rasanya ingin menangis.
Bumi yang kutunggu sejak lama, kini berputar dengan nyata. Aku jatuh cinta lagi. Bahwa benar, kesedihan tak ada yang abadi. Waktulah yang menjawab semuanya.
Butuh waktu lama untuk memastikan ini benar cinta. Hingga pernah, pada suatu malam, aku dilautkan rindu kepadamu yang tak kukenal akrab. Kala itu, airmata mengalir mengikuti lekuk wajahku. Mengangkat tangan, perdana aku mendoakanmu, menulis namamu dalam daftar nama yang aku cinta, dan menceritakan semua pada Sang Pemberi Cinta.
Aku tak ingin tergesa-gesa. Aku akan tetap diam. Diam dengan cinta yang semakin dalam. Tak ingin merusak ceritanya menjadi kelam. Biarlah tetap diam dengan caranya.
Aku jatuh cinta lagi.
Salam,
Ara
7 Mei 2015, 7:43 WIB