Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali satu tangisan terakhir.
Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali terakhir berharap sesuatu yang hilang untuk kembali.
Aku ingin di bulan yang mustajab atas doa-doa, ini kali terakhir aku bertanya kabar pada jiwa yang sudah jauh.
Bukan menyerah. Sama sekali bukan. Tapi cinta diam-diam ini dan semesta yang sekian lama bermusyawarah telah menemukan titik hasil. Semesta meminta tubuhku untuk berhenti mengingatnya, menulis tentangnya, dan mencintainya.
Seseorang di masa lalu itu harus bahagia tanpaku, tak boleh terganggu atas keberadaanku, tak boleh terbebani atas sikapku. Maka semuanya (tak) akan baik-baik saja.
Tuhan mungkin bosan mendengar namanya, maka Ia memberiku beberapa isyarat untuk lebih menjauhinya.
Selama ini lelaki itu kuanggap sebagai rumah, rupanya aku tak menyadari, dia bukan rumah bersetifikat. Tapi bodohnya aku, mengapa tak lantas pergi?
Beberapa musim terus berlalu dan aku masih berkubang di dalamnya. Bukan karena tak ingin pergi bersama yang lain, aku hanya malas memulai semuanya dari awal bersama orang lain yang menunda kesakitan berikutnya.
Seharusnya aku menyadari, lelaki di masa lalu itu sudah bersama seorang baru yang telah membuatnya jatuh hati. Maka aku salah jika terus menanti. Biarkan waktu yang membuatku beranjak dari kubangan itu. Aku hanya sedang menikmati rasa yang ada, yang mungkin rasa itu akan segera mati. Ya, sangat segera.
Sebelumnya, aku berniat untuk mencintai diam secara hebat, tapi nyatanya tubuhku tak cukup kuat jika harus menelan beberapa beling yang ia lempar perlahan. Ketika masa lelah yang selama ini kutunggu, akhirnya mendarat tepat malam ini, bersamaan abai yang berulang-ulang datang darinya. Beruntung, logikaku cepat berputar. Aku memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya terbang bebas.
Untuk segala doa, ia masih setia menjagamu. Dari jauh, sangat jauh. Sekarang, hanya ketenangan yang ingin kumiliki, bersama tulisan-tulisan usang masa lalu, dengan bumbu keikhlasan yang besar selalu. Semoga selalu ada harap untuk masa yang akan datang pada lapangnya dadaku.
Ini sebagian kekuatan kecil untuk sekadar tak mengingatmu.
Tangerang
19 Juni 2015, 22:52 WIB
Aravinda Kusuma Arrafah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar