Minggu, 20 Januari 2019

Surat Pemberitahuan

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis. Jika dipikir, memang seharusnya saya tidak menulis. Iya, saya tidak seharusnya menulis, karena menulis hanya membawa saya pada petaka. Kenyataan bahwa menulis membuat saya hanya gemar membicarakan seorang yang istimewa dan kemudian tulisan-tulisan itu menjadi yang tak pernah dibaca. Lalu saya? Menjadi orang kerasukan yang merasa hatinya paling patah sedunia. Menjadi penulis memang merepotkan. Sekali tulisannya tak dihargai, saat itu juga harga dirinya merasa diinjak, dilindas, dan dibuang. Maka ini bukan proklamasi yang pertama kali, tapi sudah berkali-kali saya bersenandung bahwa saya akan berhenti menulis, untuk saya penulis paling dungu sealam semesta. Hari ini, saya menjadi perempuan yang tak pernah percaya siapapun. Saya berharap air mata ini akan kering, hingga tak ada lagi omong kosong bahwa setelah menangis akan lega. Menangis hanya membuat saya dipermalukan. Saya rasa ini cukup. Saya tidak akan menagih apapun dari kata-kata yang keluar, saya takkan lagi menjadi yang paling bodoh. I feel lost.

Jumat, 03 Agustus 2018

Surat Khusus untuk Yoggi

Dear, Yoggi Rahmono, selaku pemilik studio Art of Indonesia dan pelukis terhebat sedunia.

Assalamu'alaikum, Yoggi yang hatinya sekuat baja.

Bersamaan dengan surel ini, aku selaku teman hidupmu ingin memberikan secercah semangat yang semoga dapat membuatmu bangkit berdiri dan kembali berlari mengejar mimpi.

Mungkin kamu sudah bosan mendapatkan tulisan panjang dariku. Tidak apa, ya? Semoga ini menjadi salah satu energi untukmu.

Yoggi yang tidak pernah marah kepadaku, yang sabarnya tiada tanding. Aku tidak sepenuhnya tahu tentang hidupmu, tentang betapa lelahnya kamu, dan tentang betapa putus asanya kamu. Tetapi, maukah kamu sedikit lebih kuat untuk mama dan bapak? Setiap detik kehidupan aku selalu percaya, kelak kamu akan menjadi orang hebat. Segala atas yang telah kamu lakukan sekarang, akan berbuah baik di kemudian hari.

Yoggi yang selalu bahagia dan tidak pernah mengeluh. Jangan pernah bersedih. Terlalu banyak doa yang mengiringi langkah kamu, begitu banyak sahabat-sahabat di sekitarmu, serta keluarga yang selalu mendukung. Jangan menyerah untuk hidup lebih baik.

Yoggi si pemilik mimpi, bukankah Allah sudah menjanjikan sebuah ikhtiar jika diiringi doa yang seimbang akan dikabulkan? Yoggi aku bersedia untuk susah senangmu. Mari bergerak bersama dari angka 0 ke angka 100.

Seperti surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Ketahuilah, hujan turun bersama pelangi.

Sudah dulu, ya. Hanya ini yang bisa aku kasih ke kamu. Semoga kamu semangat terus.

Salam,
Ara yang selalu mengagumimu :)

Sabtu, 10 Desember 2016

1 Mimpi Berarti 100 Mimpi

Mmm, mengerti dari judul tulisan saya di atas?
Begini, beberapa minggu yang lalu, saya menulis beberapa mimpi di atas kertas. Memang belum sampai genap 100, tetapi dari beberapa itu, saya menulis namamu. Oke, saya bocorkan. Mimpi saya yaitu ingin menikah denganmu. Hanya kepadamu dan bersamamu. I've been thinking why i love you. You should know, it's indescribable. Im falling in love with you so easily and im sure that you are the right one. Okay, kembali kenapa dan apa hubungannya dengan judul, "1 Mimpi Berarti 100 Mimpi".

Gi, kamu tahu saya mencintaimu, kan? Saya pikir, saya harus melanjutkan mimpi-mimpi itu bersamamu. Begini maksudnya, kamu bersedia untuk menambahkan sisa mimpi yang belum tertulis, kan? Mimpi kita. Tentang apapun. Tentang berapa anak yang ingin kamu miliki. Tentang di mana kota yang akan kita tempati bersama. Tentang kota-kota indah di Indonesia bahkan luar negeri yang akan kita kunjungi. Tentang usaha-usaha yang akan kita dirikan. Tentang cita-cita saya menjadi istri yang sholehah. Tentang cita-citamu menjadi suami yang sholeh. Tentang bagaimana anak-anak kita jadikan. Saya ingin anak-anak kita menjadi penghafal Qur'an. Rasanya akan lebih dari 100 jika kita berumah tangga.

1 mimpi yang mencakup 100 mimpi. Saya hanya ingin jadi perempuan yang membuatmu ingin segera pulang ke rumah, ingin jadi perempuan yang masakannya dirindukan, ingin jadi perempuan yang sandarannya membuat nyaman, ingin jadi perempuan yang membuat kamu merasa beruntung telah menikahi saya.

Gi, mimpi saya terlalu banyak dan saya butuh kamu untuk menguatkan langkah-langkah saya yang kerap kali melemah. Saya butuh langkah kuatmu untuk menopang segala asa yang sudah saya tulis.

Kamu bersedia, ya?
I love you because you are like home to me. I love you for your patience, your genius, and your great sense of humor.

Desember 11, 2016
08:56 WIB

Sabtu, 03 Desember 2016

Jatuh Cinta Padamu

Nggg...
Hai, Gi.
Apa kabar? Basi, ya, pertanyaannya? Seperti tak bersua bertahun-tahun. Tetapi, sudahlah, jawab saja pertanyaanku. Saya rasa kamu baik-baik saja, siapa pula yang tidak baik-baik saja sudah sebegitunya saya cintai? Jelas kamu baik-baik saja, sehat wal afiat.

Saya sedang pusing bulan ini, Ujian Akhir Semester menyita waktu leha-leha, menyita pekerjaan --melamun--, dan menyita segalanya --memikirkanmu tidak--. Tetapi sekaligus saya juga sedang bahagia-bahagianya, libur panjang sebentar lagi!

O, iya, Gi, saya sebenarnya ingin sekali mengenalkan siapa kamu, yang membuat hari saya penuh dengan kegemasan-kegemasan nyebelin tapi ngangenin. Nanti saja, nanti saya akan kenalkan ke mereka. Tidak janji dan tidak waktu dekat ini, atau bahkan mungkin tidak sama sekali. Lagi-lagi, menikmati bahagia sendiri lebih menyenangkan. Ibarat matahari hanya satu, dan itu adalah milik saya seutuhnya. Barangkali, itulah jatuh cinta.

Saya sudah kelewatan batas bahagia, gumoh, mual-mual, batuk, pilek, panas dingin, sampai overdosis, dan rasanya saya ingin melanjutkan tulisan ini sambil jungkir balik. Kalian pernah coba? Saya, sih, belum.

Eh, Gi, kamu pernah merasakan kesulitan menulis ketika jatuh cinta? Tidak ada yang lebih bahaya dari seorang penulis ketika ada yang dipikirkannya tetapi tak bisa menulis, isinya hanya kamu, kamu, dan kamu.

Oke, sebentar, saya ngaca dulu.

Ini sepuluh kali lipat lebih sulit dari mata kuliah Morfologi, yang harus memikirkan kelas kata apa, perubahan makna apa, dan adakah proses morfofonemiknya. Dan dua puluh kali lipat lebih menyebalkan dari mata kuliah Teori Sastra, yang harus menganalisis novel sampai badan kurus. Bingung. Sini, saya pegangan sama kamu, biar tidak jatuh. Ini mengganggu dan merepotkan, tetapi membuat bahagia.

Kenapa saya bisa jatuh cinta padamu, ya? Padahal kamu jarang mandi. Saya berharap bisa menulis dengan detail tentangmu di sini. Kamu bukan laki-laki romantis, tetapi kamu bisa mendadak romantis hanya depan saya. Kamu juga bukan laki-laki yang suka menjadwalkan hari apa saja kita harus bertemu, tetapi kamu bisa memanfaatkan waktu luang, walaupun satu detik, hanya untuk saya. Maaf, ya, saya rewel kalau sudah rindu. Bukan segalamu saja yang saya suka, saya juga suka tetangga-tetanggamu, suasana rumahmu, dan segala tragedi-tragedi yang terjadi di Karang Tarunamu.

Banyak, banyak sekali yang ingin saya tuliskan. Tetapi karena jari kelingkingku sudah kesemutan. Jadi sudah dulu, ya, mengarangnya.

Dari aku yang mencintaimu dengan sederhana tetapi nggak nyantai. Begitu lah pokoknya.

Desember 4, 2016, 07:34 WIB

Kamis, 30 Juni 2016

Setelah Pertemuan

Terbiasa dengan adamu, berarti kelak aku harus terbiasa dengan kehilanganmu.

Pertemuan lalu perpisahan, kemudian pertemuan lagi. Terus berulang siklus yang kutak mengerti apa namanya.

Malam ini terlalu sentimentil. Bagaimana sempat aku memikirkan kelak kepergianmu di tengah kebahagiaan yang datang berebut? Mungkin beberapa hari, pekan, bulan, atau beberapa tahun lagi aku akan menemui pergimu.

Jelas bertemu denganmu membuatku selalu ingin berbagi. Tak ingin terlewat sedetik pun -- selama kau masih di sisi-- Pada malu-malu misalnya, tak henti pipi ini merona, tersenyum di hadapan cermin. Lalu terbayang kita bersama-sama menua.

Entah bagaimana membuat semuanya baik-baik saja. Risiko bertemu adalah berpisah. Aku telah bertemu denganmu dan aku tidak tahu kapan 'berpisah' akan bermain.

Aku tak tahu akan seperti apa nanti tanpamu. Pada cerita, pada hujan, pada hitam, pada tanaman, pada film, pada Mekah, pada impian kita, pada keluh kesah, pada dvd, pada semangat yang saling kita bagi, pada doa-doa yang sembunyi, pada aku, pada kamu, bagaimana semua itu jika tanpamu?

Maka setelah aku jatuh cinta pada hadirmu, aku akan belajar jatuh cinta pada pergimu kelak. Pada semogaku, bahagialah selalu.

23:03 WIB
Tangerang

Kamis, 21 April 2016

Siti Aisyah Masa Kini

“Wanita itu tiang negara, bila dia (wanita) baik, maka baiklah negara itu. Akan tetapi, bila wanita itu rusak maka rusaklah negara itu.” (HR. Muslim)

Jujur, cerdas, pandai, tegas, darmawan, dan berani adalah karakter wanita yang dibutuhkan untuk pembangunan bangsa ini. Sudah menjadi sejarah bahwa RA Kartini adalah pejuang hak-hak wanita untuk menjadi kaum yang mandiri hingga mendapat kesejajaran hak dengan kaum pria pada masa itu. Karena perjuangannya, para kaum wanita saat ini mendapatkan haknya di berbagai bidang pekerjaan. Ruang untuk wanita telah diberikan dan memiliki banyak kesempatan untuk terus berkarya tanpa memperhatikan gender.

Wanita sangat berperan besar dalam mewarnai dan membentuk dinamika zaman. Lahirnya generasi-generasi yang unggul, bermoralitas tinggi, cerdas, dan memiliki nilai-nilai agama tidak luput dari sentuhan seorang Ibu. Seorang penyair dari Arab berkata, “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat.” Itulah sebabnya wanita harus meningkatkan kualitas dirinya, karena perempuan yang akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.

Jauh sebelum RA Kartini yang memiliki semangat yang kuat serta tekad yang luar biasa, ada Siti Aisyah yang memiliki kepribadian cerdas, tangguh, dan tegas dalam mengambil sikap untuk menegakkan hukum Islam. Siti Aisyah adalah wanita yang selalu haus akan ilmu. Ia banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Muhammad. Sehingga beliau mendapat gelar Al-Mukatsirin (orang yang paling banyak meriwayatkan hadits). Begitu banyak keteladanan yang dapat dicontoh. Adapun hal yang cukup heboh adalah kurangnya moralitas wanita pada zaman sekarang. Ini adalah masalah terbesar bagi kaum wanita.

Banyak wanita yang memiliki kecerdasan, namun moralnya begitu rendah. Inilah yang menjadi dasar dalam pembangunan bangsa. Sibuk meningkatkan pendidikan dari S1, S2, hingga S3, tetapi kebobrokan moral sangat terlihat nyata. Kecerdasan tanpa moralitas hanya menjadi wacana untuk pembangunan bangsa yang diharapkan.

Bisa kita bayangkan jika wanita sadar akan perannya dalam membangun bangsa. Sudah tentu bangsa ini akan menjadi bangsa yang kita harapkan selama ini. Tidak hanya kecerdasan atau strategi yang harus ditingkatkan, tetapi nilai agama yang juga turut berkonstribusi dalam membangun bangsa. Bukan saatnya lagi wanita bertahan pada sifat ‘kelemahan’ yang dimilikinya dan juga bukan berarti harus berteriak-teriak di jalanan, demo mempeributkan hal yang sia-sia, tetapi dengan anggun dan terhormat wanita dapat membuktikan bahwa wanita juga memiliki prestasi yang mampu mendobrak peradaban bangsa bahkan dunia.

Jadilah Siti Aisyah masa kini yang bersikap bijak dan berani serta tidak melupakan nilai agama. Jika perempuan lebih condong ke intelektual tanpa memperhatikan agama, bangsa yang cerdas hanya akan menjadi mimpi abadi. Manfaatkan apa yang sudah RA Kartini perjuangkan, yaitu emansipasi wanita. Kesempatan sudah banyak terbuka di bangsa ini. Jadilah wanita tangguh dan bermoralitas tinggi.

Presiden Eksekutif Institut Leimena, Jacob Tobing, dalam buku Megawati Anak Sang Putra Fajar: “Ini Abad 21: Perempuan jangan cengeng menuntut ini itu, buktikan bahwa Anda bisa. Peluang untuk itu terbuka lebar sekarang dan Anda berhak pada posisi atau jabatan itu, bukan dengan cara mengemis atau diberi sebagai hadiah.”

Tangerang, 21 April 2016
Aravinda Kusuma Arrafah

Senin, 01 Februari 2016

Februari ke-3

Akhirnya, aku bertemu denganmu lagi. Sebagian orang di bulan ini tak ada yang spesial, sebagian lagi ada yang spesial, dan sebagian lagi hanya biasa saja.

Aku adalah perempuan yang ketika itu bersyukur kau hadir di hidupku, setelah Ibumu. Kau Februariku, entah mengapa hari lahirmu menjadi perihal penting yang harus kusyukuri. Ingatanku melulu tentangmu.

Sekarang, tak seperti dulu. Satu dua kali aku membencimu atas masa lalu. Satu dua kali aku menyesali kau pernah begitu lincah atas sandiwara. Satu dua kali, bahkan berkali-kali aku tak pernah berhasil meninggalkanmu dengan utuh. Dan masih banyak satu dua kali yang aku tak sukai.

Bayangmu, bicaramu, senyummu, yang kurang ajar melesat dengan indah di pikiran. Ini Februari ke-3, aku masih tak kenal lelah. Bagaimana hanya kamu yang bisa seperti ini?

Dua hari kemarin, aku berturut-turut bertemu dan sesekali berbincang denganmu. Kau tahu? Kau telah membangunkan kupu-kupu di perutku. Tidak, aku tidak akan berharap seperti dulu. Biar saja, dia diam-diam terbang ke seluruh tubuh. Ada sesak, ada rindu yang harus kubicarakan. Dia mengganggu tidur lelapku.

Tapi lelaki, ketahuilah aku pandai untuk bahagia. Aku pandai menciptakan tawa. Ini semua karena Tuhan bekerja sama denganku, untuk belajar hidup tanpamu.

Ada sisi hati berbisik yang begitu yakin, kau adalah milikku. Kau tetap di sisiku. Syukurku sekali lagi, kau benar-benar tidak hilang. Aku bahagia seperti ini, aku bahagia. Masa lalu yang kuhormati, mengajarkan arti banyak di hidupku yang sekarang. Mencintaimu seperti ini, membuat aku lebih dekat dengan Penciptaku.

Cinta yang terburu-buru membuat binasa, biarkan cinta dan waktu berdiskusi. Atas sakitku, atas lukaku, atas masa laluku, sudah kulupakan. Kau telah menjadi bagian doa masa depanku. Bagaimana pun nanti jadinya, Tuhan selalu bekerja dengan sangat baik. Dunia penuh kejutan. Masih cintanya kau denganku atau tidak, aku tidak peduli. Karena dengan tangan Tuhan, Dia mampu mengubah semuanya.

Sepotong catatan ini membuktikan bahwa tahun-tahun, bulan-bulan, dan hari-hari yang berlalu, kurang cukup lama aku bisa melepasmu seluruh.

Kau, Februariku. Tak usah berpikir banyak atas ini. Karena aku tak berniat mengganggumu. Hiduplah sehidup-hidupmu. Doaku selalu mengiringimu.

Ditulis pada,
01/02/2016, 21:47 WIB
Tangerang
Ara

Rabu, 11 November 2015

Kehilangan - cerpen



           Aku berdiri di depan cermin dengan rambut yang berantakan, wajah pucat, dan mata yang selalu basah. Untuk tersenyum pun aku tak sanggup. Tapi pada hari itu, aku berusaha menerima kenyataan dan bangkit dari keterpurukan. Aku memakai kacamata minusku, memakai kerudung yang sudah tak sedap aromanya, dan keluar kamar. Aku berjalan dengan gontai, goyah, hati yang hancur, dan harus menembus waktu tanpamu. Terlihat kedua adikku yang sedang bermain, namun aku terus berjalan dengan langkah seberat seribu ton, mengabaikan suara tawa renyah mereka yang biasanya selalu membuat keadaanku membaik. Tapi kali ini tidak, aku berbeda tanpamu. Aku begitu takut untuk membuka mata, melihat semuanya yang telah usai. Semua tentangnya, senyumnya, tatapan teduhnya, tawa lepasnya. Aku ingin selalu bersamanya. Aku ingin dia, tetap ingin dia. Namun nampaknya takdir tak mengizinkan kita bersatu. Terkadang aku berpikir, untuk apa Tuhan menyatukan jika pada akhirnya ditemukan dengan perpisahan. Aku telah kehilangan sosoknya. Sosok yang selalu menari di puisi bahagiaku, tapi kini hanya ada duka.
            Aku terus berjalan. Dengan hati-hati aku melangkahkan kakiku, kaki yang sempat lumpuh beberapa bulan terakhir. Tak ingin kemanapun, hanya ingin ada tangis, berharap dapat menyembuhkan luka. Rindu yang selalu berkecamuk, minta diperhatikan, dan haknya untuk sekadar bertemu melarutkan bekunya sebalok rindu. Segala tentangmu, kuputar kembali memori satu per satu. Tentang kita yang dulu pernah ada. Aku ingat, saat pertama kita bertemu, membicarakan sesuatu hal bodoh hingga larut malam, dan saat kau terbaring sakit.
            “Kamu ini bagaimana, sih? Tubuhmu itu belum benar-benar sehat. Sekarang kamu malah pulang larut malam karena futsal. Dadamu sering sesak, Di. Vakumlah untuk beberapa bulan. Kamu sudah makan? Sisa obat kemarin sudah kamu minum?” ucapku tanpa menyempatkannya berbicara sekatapun.
Hal yang paling aku suka, melihat wajah kesalmu karena cerewetku soal kesehatan. Tapi sekarang wajah itu tak dapat kutemui lagi. Terlalu banyak tentangmu, Di, desahku.
Aku tiba pada sebuah taman, tempat dimana kau sering sekali membuatku kesal. Bagaimana aku tak kesal? Kau suka sekali mengerjaiku dengan kejahilan, yang menurutku itu adalah kejahilan paling jahil sedunia. Aku rindu itu, Di. Aku rindu. Aku tak bisa kehilangan kamu. Apakah kamu tahu rasanya ketika seseorang yang sangat berarti tiba-tiba pergi dari hidupmu? Aku lupa bagaimana caranya merelakan. Sedih, kecewa, marah, itu yang kudapat. Terlalu lama aku mengekang emosi ini. Berselimut dalam kenangan. Terlalu cepat kau meninggalkanku.
Tap.
Aku menghentikan langkahku, di bawah lampu taman. Lampu yang tak sebagus dulu, selepas kepergianmu. Pikiranku melayang saat kau mengatakan,
“Ra, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku tak mau masuk terlalu dalam lagi. Maafkan aku, Ra. Aku tak bisa melukai kamu, aku tak ingin. Berjanjilah untuk tidak mengingatku lagi. Maafkan, Ra. Aku harus pergi sekarang”.
Di, aku tak bisa. Aku tidak bisa. Tanpa terasa airmataku mulai mengalir mengikuti lekuk wajah. Langit seakan meredupkan birunya. Aku tak berdaya. Lemas. Remuk. Hancur. Aku buta, Di. Aku kehilangan arah.
            Aku mengikuti kemana langkah kakiku berlari. Berlari meninggalkan memori tak bertuan dalam ingatanku. Aku ingin bertemu. Aku terus berlari dan sampailah kaki ini berhenti, tepat dimana seharusnya aku berhenti. Tempat kesukaanmu, sampai kau tak ingin pulang menemui Ibumu. Kau terlihat betah sekali di sini. Aku segera berbalik arah. Takut menatapmu.
            “Hai, Yudi. Apa kabar?” tanyaku memunggunginya.
            “Yudi…” panggilku lirih.
            “Mengapa kamu tak menjawab. Aku rindu” Yudi masih diam, tenang.
Angin berhembus menggelitik telinga. Udara dinginnya menusuk tulang.
            “Yudi!” panggilku hentak.
          “Yudiii!!! Bisakah kamu menjawab sedikit sapaku! Aku hampir gila karenamu” aku meninggikan suara.
Yudi sekali lagi hanya diam, tak menjawab sepatah katapun.
            “Yudi…”
Aku menarik nafas berat.
            “Aku sayang kamu” kataku lirih.
Diam sejenak, sunyi, sepi. Airmataku telah pecah.
            “Baiklah kalau begitu, aku akan menamparmu!”
Dengan cepat aku berbalik arah, kemudian dengan penuh emosi aku tampar tanah kuburnya. Aku terus memanggilnya. Tak ada jawaban. Aku terus menamparnya, mengacak-acak, terus memanggil, teriak, emosi, hingga hanya kelelahan yang kudapat.  Aku memeluk tanahnya dengan sejatuh-jatuhnya. Kudapati hangat, tak ingin pergi. Kuharap, aku bisa menemui penggantimu, lirihku.

Sabtu, 07 November 2015

Untuk Masa Laluku

Teruntuk kau yang kuingat berkata tajam melepaskanku. Tertancap pada langkah kakiku, dan kemudian kau paksa berhenti.

Entah sudah berapa kali aku gagal untuk mencinta, dan untuk kesekian kali aku enggan jatuh cinta pada yang lain. Yang perlu kau garis bawahi aku hanya mengingatmu, tidak lagi menginginkanmu. Aku perempuan yang masih waras. Menginginkanmu kembali adalah bencanaku.

Aku sudah cukup gila karenamu. Mencintaimu aku pernah sampai lupa bahagiaku, merinduimu aku pernah hingga airmata meresap ke dalam pipi. Sudah cukup semua, terbaikku kau malah abaikan.

Sesungguhnya kau telah melewati satu tempat dimana kau adalah rajanya. Karena membuatmu terluka dulu sesuatu yang begitu lancang. Merepotkanmu juga dulu bukanlah hak atas diriku. Kau begitu kuprioritaskan; dulu.

Menulisku untuk masa lalu; kesekian kali aku mengingatmu. Kau mungkin yang paling membekas di antara yang lain. Tapi, aku ingin yang lain, bukan dirimu.

Selepasmu tak ada yang cocok masuk menggantikanmu. Terkadang kendur, terkadang kebesaran, benar-benar tak ada yang pas di hati.

Aku bukan masih mencintaimu, tapi aku hanya senang mengenang tentang masa laluku; kamu. Karena untuk mencinta lagi tak semudah membuat teh hangat.

Menulisku untuk masa lalu; sengaja aku tenggelam pada nostalgia. Hingga lupa jalan pulang. Tentangmu selalu mudah kubuat puisi, meski tak ada kamu lagi.

Ditulis pada,
16:01 WIB, 7/11/2015
Tangerang
Ara

Senin, 05 Oktober 2015

(Berusaha) Mengurungmu

Menulismu adalah kegemaranku, tapi kini aku berusaha menghilangkannya.

Rumahmu adalah pulangku, tapi kini aku berusaha lapang, karena kau tak memberi izin.

Tawamu adalah bahagiaku, tapi kini aku berusaha mencari bahagia lain, karena kau mulai samar.

Sikapmu adalah tahu diriku. Abaimu adalah sadarku.
Dan kini aku berusaha mengurungmu.

Entahlah, begitu cepat semua terjadi. Sakit, patah, hancur, mulai terasa di ulu hati. Kau yang awal amat manis, namun sekarang hilang lenyap tanpa permisi. Begitukah semua lelaki?

Aku yang berharap tinggi, atau kau yang memang tak punya hati? Apa mungkin ada perempuan lain yang juga terluka?
Tenanglah, tenang, aku sedang tidak emosi. Tenang...
Lain kali jagalah lisan dan tingkahmu, pikiranmu tak sama apa yang dipikirkan para perempuan.

Lebih baik aku putuskan,
Aku yang terlalu berharap tinggi. Aku yang salah. Aku salah, tuan.

Perempuan ini hanya terluka. Tersayat hatinya. Hati yang sudah disiapkan untuk mencinta dengan sebaik-baiknya. Kuharap masih ada sisa ruang untuk mencinta lebih baik lagi.

Aku sibuk mendoakanmu, kau malah sibuk menyakitiku. Bagaimana sih? Ini kerjasama yang curang!

Malam ini, aku sudah mendoakanmu. Sangat terbaik. Aku tak minta diaminkan, cukuplah diam, Tuhan tahu mana yang terbaik untukku. Baik didekatkan, buruk dijauhkan. Semoga kamu kelak, baik untukku. Mungkin memang bukan sekarang, bisa jadi esok, lusa, atau bahkan beberapa tahun kemudian. Atau mungkin tak sama sekali. Jika iya, pasti aku telah mencintai lelaki yang memang untukku.

Semoga kamu baik, dan mendapat perempuan baik. Seimbanglah dengan perkataan dan tingkahmu. Jangan menebar jala sana sini, nanti ada yang membencimu. Baik-baiklah menjadi lelaki. Kau seperti ini saja, aku masih mencintaimu. Eh, oh iya aku lupa. Aku kan sedang berusaha mengurungmu. Doakan aku, cepat-cepat melupakanmu hehehe. Jika menurut Tuhan baik, pasti Dia membuatku lupa :)

Ditulis pada
5/10/2015, 21:10 WIB
Tangerang
Ara

Selasa, 29 September 2015

Hanya Rindu

Orang yang paling diam, paling tenang, padahal sejatinya ia meronta sunyi dalam keramaian. Itu rindu.

Orang yang paling ceria, paling gemar bercanda ria, padahal sejatinya ia memiliki hati yang harus dihibur. Itu rindu.

Orang yang paling bijak, paling senang memberi nasihat, selalu menjadi tempat bercerita, padahal sejatinya ia butuh sandaran yang kokoh di sampingnya. Itu rindu.

Hanya rindu. Tenanglah, hanya sebongkah rindu sederhana. Ia tidak beringas.

Kudapati semua tulisanku sendirian. Seperti hilang nyawa semenjak kau tak lagi kutemui di malam hari. Ternyata aku pun merasa sendirian. Merasa sepi. Aku ingin kamu.

Hanya rindu. Ah, aku rindu. Sungguh. Aku tak ingin bercanda. Aku benar rindu, tuan.

Mencintaimu dengan sembunyi tak pernah menyenangkan. Merindumu pun begitu, harus sembunyi. Tak ada yang menyenangkan. Sayat pisau selalu menggores hati. Pelan namun tepat.

Aku sendiri, diteriaki sepi. Dibelenggu rindu. Memejam mata, bayangmu jelas. Menghirup kenangan. Pilu. Aku rindu...

Zikir cinta tak pernah henti kulantunkan. Berusaha sekuat mungkin menghilangkan wajah dari khayalku yang tak menginginkan keberadaanku. Tapi, aku masih ingin kamu. Bagaimana dengan rindu?

Tuan, kau tak merasakan apa-apa? Saat aku mencuri-curi pandang, saat aku memandangmu lamat, saat aku mendapatimu tertawa dengan selainku. Kau tak merasakan hadirku? Ya Tuhan, sesulit inikah menjaga cinta tetap diam? Rindu ini sederhana, namun tak biasa. Entahlah, harus kusebut apa rindu ini.

Maafkan aku yang terlalu cepat mengartikan semua perlakuanmu, aku tidak menyadari, bahwa kamu pun ke yang lain juga seperti kau memperlakukanku. Tapi percayalah, aku rindu itu. Bukan, bukan merindui yang itu. Aku merindu firasatku yang tak ada perempuan selain diriku. Merindui firasat bahwa kau memperlakukanku paling istimewa.

Hanya rindu dan harus kutuliskan. Ingin kusampaikan, tapi tidak. Aku mengurungkan rindu ini, hingga semuanya sudah siap. Aku akan jaga kesederhanaan rinduku ini yang semakin tak terlihat, terbelakang, terkoyak sepi, menjerit sunyi.

Ditulis pada,
30/09/2015, 05:44 WIB
Tangerang
Ara

Selasa, 22 September 2015

Lebih dari itu...

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari patah hati?
Bertahan untuk tidak mengungkapkan. Bahkan lebih dari itu.

Kau tahu apa yang lebih memilukan dari kehilangan?
Bertahan untuk tidak jujur dari sebenarnya. Bahkan lebih dari itu.

Kau tahu apa yang lebih menyedihkan dari kerinduan?
Bertahan untuk tidak bicara, dari cinta yang seharusnya dibicarakan. Bahkan lebih dari itu. Sekali lagi, sakitnya melebihi dari itu.

Seharusnya aku berhenti menebak isi hatimu, dan mungkin juga aku harus berhenti dari segala tentangmu. Tapi hati ini terus meronta menyebut nama yang di hatinya tak ada namaku.

Kau indah, dan aku jauh dari keindahan. Memintamu seperti aku tak tahu diri pada Tuhan. Meminta ciptaan-Nya yang sedangkan diri ini begitu tak pantas bersanding denganmu.

Bertahan pada suasana yang tidak baik-baik saja. Membuat aku meronta kesakitan di balik rahasia. Sakitnya begitu memilukan. Ini semua dalam masalah. Hati ini dalam masalah. Semua tidak baik-baik saja, tuan. Aku kesakitan. Sakitnya lebih dari itu...

Jangan terbawa perasaan jika kau membaca tulisanku yang satu ini. Perempuan ini senang menghiperbolakan sesuatu. Seiring waktu kau akan terbiasa dengan ke-melankolisan-ku. Perempuan ini hanya senang menulis apa yang sedang ia rasakan. Perempuan ini menyadari satu hal, "Jangan terlalu berharap. Jika hari ini membahagiakan, bisa jadi esok hari mengecewakan. Tetaplah menjadi seorang yang selalu bersyukur dan ikhlas terhadap sesuatu yang terjadi".

Adalah mencintaimu; bahagia atau kecewa adalah salah satu bentuk yang harus kuikhlaskan. Tuhan selalu mempunyai alasan, dan mencintaimu adalah anugerah dari Tuhan.

Mencintaimu dalam diam, memang menyakitkan. Bahkan lebih dari itu. Tetapi tenanglah, perempuan ini selalu tahu cara mengendalikannya, yaitu dengan sebuah doa sederhana, karena itulah penghubung terbaik dalam kamus kehidupan.

Ditulis pada,
22/09/2015, 17:26 WIB
Tangerang
Ara

Sabtu, 19 September 2015

Mengemas Kembali



Seharusnya cinta ini kujaga sebaik-baiknya. Tidak ada ucapan yang keluar seabjad pun. Tetap terbalut dengan doa-doa malamku. Tetap berada di kotak rahasia hidupku. 

Seharusnya cinta ini melangit sebelum ia membumi. Tidak ada ceceran yang keluar dari hati. Tetap tersusun dengan susunan yang rapi. Tetap berada di tempat yang Allah cintai.

Aku harus mengemas kembali yang sudah terlewati. Menata kembali cinta yang sempat aku nodai. Biarkan cinta ini terus sembunyi, hingga Allah izinkan kapan ia akan keluar dari hati. Lalu berorasi.

Aku harus mengemas kembali. Mengemas cinta dengan kemasan sebaik-baiknya, dengan kualitas tertinggi, untuk kelak dia yang bersanding denganku tegak berdiri. 

Wahai hati, mari berkemas kembali. Semuanya yang sudah dikotori. Oleh diri yang tak tahu diri.
Wahai hati, mari berkemas kembali. Menyusun susunan hingga tertata rapi. Pada ruang yang sudah lama mati.
Wahai hati, mari berkemas kembali. Menjaga cinta hingga halal nanti. Raih semua yang Allah ridhai.
Wahai hati, simpan semua di almari. Jangan lupa kau kunci. Karena suatu waktu pasti nafsu akan datang menghampiri.

Untuk kamu yang kucintai, semoga terus berlatih untuk menjaga hati. Baik-baiklah ketika setan datang menghampiri. Kuatkan diri untuk tetap pada jalan yang Allah cintai. 

Semoga keistiqomahanmu terus bertambah semakin hari, komitmen terjaga baik, dan kesholehanmu bertambah lagi dan lagi.

Kelak, kau jangan lupa mengajakku untuk membangun rumah di Surga nanti. Semoga Allah izinkan kamu berdiri di sampingku, menjadi lelaki yang akan mencintaiku setulus hati.

Segala bentuk cinta dan rindu telah kusampaikan pada Illahi, tidurlah lebih awal malam ini, barangkali Allah menyampaikannya melalui mimpi.

Sekali lagi, sabarlah wahai hati. Ayo mulai mengemas kembali.

Ditulis pada,
19/09/2015, 21:23 WIB
Tangerang
Ara

Kamis, 17 September 2015

Aku (tak) Kalah

Aku seperti bumi dan kau matahari.
Aku seperti ilalang dan kau rumput segar.
Aku seperti lumpur dan kau air jernih.

Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang.
Aku mencintaimu sudah begitu tenang.
Jangan kau buat aku semakin kunang.
Tidak memiliki, tapi seperti ada yang hilang.
Kau semakin hari selalu melayang, hingga membuat kepalaku kepayang.
Kau melekat erat pada bayang.
Sungguh tak ingin kelak kau hanya menjadi bagian kenang.

Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang. Ini bukan perlombaan. Ini bukan kompetisi memenangkan sesuatu. Tenanglah, aku hanya merasa kalah. Belum benar-benar kalah.

Seperti ada yang menghantam perlahan. Layaknya sembilu yang merobek pelan pada sisi hati. Sesuatu yang entah apa itu namanya.

Mengapa mencintaimu bisa sekhawatir ini? Sepandai-pandainya manusia berkata tak boleh egois. Hati ini selalu tak mau merasa kalah. Tapi aku tak ingin menang. Ah, apa ini?

Aku merasa kalah, tapi tak ingin menang.
Ini hanya bagian orasi hati, yang ingin sekali kuucap kencang.
Seperti ada yang sesak dan sesuatu yang menahan. Memaksa. Sangat pilu.

Tenang.
Sabar.
Dalam doa.
Mencintaimu begitu sembunyi. Sunyi. Sepi. Dan tahu diri.

Biarlah aku sibuk mendoakanmu, dan kamu semoga bersedia untuk mengaminkan.

Tetaplah tenang, aku baik-baik saja. Semoga ini hanya sebatas perasaan. Aku tak kalah. Semoga memang tak kalah.

Seperti inilah aku mencinta. Tetaplah tenang. Menulis adalah kegemaran. Jadi tak usah dipikirkan.

Adalah kamu; kerinduan yang menjadi candu di setiap tulisanku yang tak syahdu. Aku memang tak berjanji akan selalu menulismu, tapi kau berhasil menjadi abadi dalam tulisanku. Aku mencintaimu.

Ditulis pada
17/09/2015, 19:44 WIB
Tangerang
Ara

Selasa, 15 September 2015

Aku Bukan Teroris

Bisa kita berbicara empat mata, sayang? Sedikit menjelaskan bahwa, aku bukan teroris. Iya, aku bukan teroris. Aku hanya perempuan berkerudung besar.

Jadi, kau sebelumnya sudah tahu perintah menutup aurat? Jika sudah. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberitahumu. Jika belum, mari kuajak sedikit membuka Al-Qur'an.

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya),..." (An-Nur: 31)

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu,..." (Al-Ahzab: 59)

Sudah kau membacanya, sayang? Sungguh, kerudungku hanyalah kain panjang yang menutupi mahkotaku hingga menjulur ke bawah. Adakah ciri-ciri teroris dariku?

Aku hanya perempuan akhir zaman, yang ingin patuh pada Pencipta. Salahkah aku mengenakan kain selebar ini?

Aku bukan teroris.
Sungguh, hatiku sangat teriris.
Aku bukan teroris, apalagi anggota ISIS. Tak ada bau mistis di perempuan sepertiku yang melankolis.
Sekali lagi,
Aku bukan teroris. Jangan buat aku menangis, hingga meringis.
Aku mohon jagalah lisanmu yang sadis. Aku bukan teroris.

"Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat" (HR. Muslim)

Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, Allah ada bukan hanya saat sedang shalat saja. Tetapi Allah ada di setiap waktuku. Maka begitu tidak sopan jika tidak menutup aurat.

Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, tujuan akhir hidup bukan hanya cukup di dunia saja. Tetapi di kehidupan berikutnya. Dimana tak ada toleransi lagi. Salah tetap salah. Dosa tetap dosa. Siksa tetap siksa.

Aku mengenakan kerudung karena aku sadar, merayu Allah bukan hanya dari shalat saja. Tetapi dari salah satu kewajiban yang muslimah suka lupakan, menutup aurat. Jika sudah wajib, maka tak ada kata 'belum siap'. Lebih cinta dunia atau Penciptanya?

Aku bukan teroris. Aku sama seperti perempuan lain, yang benci dengan kekasaran. Aku perempuan normal.

Aku bukan teroris. Aku tidak paham cara membidik senapan. Aku tidak tahu cara mengebom sebuah gedung. Aku benar-benar bukan teroris.

Apa yang membuatmu aneh melihatku? Pakaian serba hitamkah? Maafkan aku, jika aku menakutimu. Hitam hanyalah warna kesukaan.

Sayang, maukah kau sedikit berpikir? Bahwa ini hanyalah sebuah perintah dari-Nya. Aku pun jauh dari sempurna. Akhlakku berantakan. Hafalan suratku tidak teratur. Sungguh jauh dari shalehah.

Aku hanya perempuan akhir zaman, yang ingin terus memperbaiki diri. Dan sekali lagi, aku bukanlah teroris.

Ditulis pada
15/09/2015, 22:17 WIB
Tangerang
Ara

Senin, 14 September 2015

Sembunyi

Tuan, akan kupastikan kau tak akan pernah tahu persembunyiannya dan akan kupastikan dia tetap dapat melihatmu dari persembunyian.

Adakah kau tahu lelaki?

Ada seorang perempuan yang rajin sekali melirik matanya ke arah kursimu.

Ada seorang perempuan yang cekatan menoleh ke arah kursimu kala kau tertawa. Senyumpun sepertinya perempuan itu tahu. Seperti ada energi yang menariknya.

Ada seorang perempuan yang memperhatikanmu kala kau berbagi cerita pada selain dirinya.

Adakah kau merasakan sesak hatinya? Adakah kau merasakan hadirnya? Adakah kau merasakan tangisnya yang tak bersuara itu?

Tuan, akan kupastikan kau tak akan pernah tahu persembunyiannya. Persembunyiannya yang paling nyaman. Dimana dia diam-diam melihatmu seraya ucap doa yang tak kunjung henti.

Perempuan itu selalu sembunyi. Dia ada di sampingmu, di belakangmu, di depanmu, dimanapun, dia ada. Dan kala kau hilang dari pandangannya, perempuan itu selalu mencari.

Pada sembunyi; ada cemburu yang ia ceritakan.
Pada sunyi; ada cinta yang ia utarakan.
Pada ramai; ada tertawa yang ia perankan.

Tetaplah tak sadar jika diperhatikan. Ia tetap ingin dalam sembunyi, dalam sepi, dalam sunyi.

Catatan kecil untukmu: Jangan berusaha tahu persembunyiannya. Jangan banyak bertanya. Fokuslah pada bahagiamu. Ia sedang dalam proses menantimu dengan sebaik-baiknya menanti.

Ditulis pada,
14/09/2015, 22:28 WIB
Tangerang
Ara

Selasa, 08 September 2015

Cinta Diam-Diam

Cinta;
Sakit jadi sehat.
Lemas jadi semangat.
Kantuk jadi larut.
Sedih jadi bahagia.
Jahat jadi baik.
Kasar jadi lembut.
Marah jadi ramah.
Hitam jadi putih.
Dan,
Cinta; kamu.

Sesederhana itu mungkin arti cinta. Seperti manusia idiot yang sedang bahagia di antara manusia yang sedang berduka atau manusia gila yang sedang tertawa di antara manusia yang sedang menangis. Adakah kau seperti ini? Itu aku. Hal ini tak kubuat-buat. Tapi suasana hati yang memaksaku untuk idiot dan gila.

Kata anak SD, seperti pandangan pertama. Tapi jika kata mahasiswa, seperti ada yang berdemonstrasi. Memerintahkanku untuk jatuh cinta lagi. Dasar bodoh! Mana ada jatuh cinta dibuat-buat? Sebelum diperintah untuk jatuh cinta, aku sudah berada dalam kubangan. Jatuh. Utuh. Seluruh. Menyatu. Sungguh.

Cinta ini diam-diam. Tak banyak mau. Tak banyak tindakan. Tak banyak ucapan. Jadi, cinta ini diam-diam, akan tetap diam, sampai Tuhan mengizinkannya untuk tetap diam.

Cinta ini akan tenang. Ia lebih dulu melangit di antara gumpalan awan dan bintang-bintang. Indah di antara warna pelangi. Menawan di antara Maha Cinta dan kamu.

Mendengar tawanya, duniaku hampir 100% sempurna. Bunyinya seperti suatu melodi yang mengalun indah dekat telinga. Seperti ribuan kata yang selalu kuhiperbolakan. Hampir sempurna.

Tuhan, cintaku ini diam-diam dan kupikir Engkau tahu dari awal. Sekarang ini, aku mulai sibuk menyebut namanya dan tidak lagi menyebut nama yang lain. Ternyata benar, cinta suatu hari akan datang bertamu di ruang hati dan berharap akan menetap satu atap pada satu rumah hingga ke Surga.

Kematian rasa sudah hilang. Tutur katanya yang sopan membasmi habis kematian itu. Ini bukan sesuatu hal yang cepat, tapi aku hanya merasa, bahwa kamu tepat sekali klop pada hati dan terkunci di dalamnya.

Tak ingin gegabah, aku memintamu hanya pada Yang Punya hatimu. Tak melalui kamu ataupun yang lain. Karena setelah kejadian datangnya cinta ini, aku mengerti. Bahwa Tuhan selalu tepat waktu dalam urusan cinta.

Tulisan ini akan aku akhiri dengan, bahwa aku akan mencintaimu dengan tenang dan aku putuskan, aku akan tetap diam, sampai kamu memintaku melalui Ayahku.

Ya, cinta ini diam-diam.

Ditulis pada,
09/09/2015, 10:35 WIB
Tangerang

Ara

Jumat, 31 Juli 2015

(Bukan) Mati Rasa

Sepertinya mengerikan jika rasa sudah mati. Menulisnya saja seperti hal yang mitos. Rupanya, kini aku sedang mengalami. Sebentar, biar kuperjelas. Ini (bukan) mati rasa. Hanya tak merasakan apa-apa ketika dia datang kembali lalu pergi lagi. Seharusnya aku terluka. Tapi ini tidak. Seperti tak ada kesakitan dan hasrat ingin menangis.

Ini (bukan) mati rasa, sayang. Tak ada rasa ingin tahu kabarmu. Tak ada rasa peduli harimu. Ah, ini benar-benar tak ada cinta setelah kau tancapkan beberapa jarum biadab di hati.

Sudah ratusan hari kulewati tanpamu. Seratus pertama, aku masih sangat menginginkanmu. Seratus kedua, aku masih sangat sangat mencintaimu. Seratus ketiga, aku masih sangat peduli mencari kabarmu. Seratus keempat, tak ada yang mengingatkanku bahwa seharusnya aku masih mencintamu. Hingga detik ini aku lupa dan tak ada yang mengingatkan sampai mati rasa. Awalnya, aku berterima kasih namun tiba-tiba aku resah. Lantaran khawatir...

Aku ingatkan. Ini (bukan) mati rasa. Tak ada seorang pun yang mampu menemukan kunci hati yang sempat kubuang. Entah kemana. Aku tak bisa mencinta lagi, tak bisa percaya lagi pada lisan kaum Adam, tak ada lagi kesempatan. Aku tak tahu sampai kapan...

Aku seperti merindu seseorang, tapi tak tahu siapa yang sedang kurindu. Aku seperti mencinta seseorang, tapi tak tahu benarkah ia yang kucinta. Aku seperti menginginkan seseorang, tapi tak tahu apa ini benar atau sekadar nafsu.

Aku mungkin tak mati rasa. Hanya belum menemukan. Sampai malam ini pun, aku takut memutuskan untuk membuka hati.

Fase terbahaya; mati rasa. Seperti kepekaan hati yang putus tiba-tiba. Resah.

Bahkan untuk menulisnya pun susah. Mati rasa.

Ditulis pada
31/07/2015, 23:12 WIB
Tangerang

Ara.

Minggu, 05 Juli 2015

Berbagi Kekuatan(ku)

Jika membaca judul, aku sungguh bukan perempuan terkuat.

Aku masih menangis, ketika ada yang menyakiti.
Aku masih sulit mengikhlaskan, ketika milikku direbut.
Aku masih belum penyabar, ketika aku menunggu terlalu lama.
Dan, tak selamanya aku bisa menyenangkan hati banyak orang.

Tapi, aku punya satu kekuatan yang tak bisa dikalahkan apapun; kekuatan dari-Nya.

Aku memang masih menangis, tapi aku tahu caranya menghapus airmata.
Aku memang masih sulit mengikhlaskan, tapi aku tahu Tuhan pasti menggantinya.
Aku memang masih belum penyabar, tapi aku tahu menunggu pun pasti ada hikmahnya.
Dan, ternyata kekuatanku juga berasal dari menyenangkan hati banyak orang. Maka, aku akan terus berusaha...

Satu dalam benakku,
Aku tak ingin menyimpan kekuatan ini sendiri, aku harus berbagi.
Sederhana saja. Ketika ada yang menangis, sulit mengikhlaskan, dan tidak penyabar, aku harus hadir di sampingnya.

Bukan, bukan ingin menjadi pahlawan.
Ada yang perlu diketahui,
Orang yang sedang "kacau" hanya butuh pertanyaan, "kau ingin bercerita denganku?". Sesederhana itu menyenangkan hati seseorang.

Lagi-lagi bukan, bukan ingin menjadi pahlawan.
Orang yang sedang "kacau" tidak butuh banyak saran. Hanya butuh pendengar yang baik bahkan setia dan kemudian pelan-pelan menyadarkan bahwa bumi tak seluas kamarnya saja.

Sekali lagi bukan, aku bukan ingin menjadi pahlawan.
Orang sedang "kacau" tidak butuh yang bertele-tele. Hanya butuh uluran tangan dan kemudian yang mampu mengingatkan bahwa Tuhan selalu telat waktu dalam perihal kebahagiaan.

Semoga segala kekuatan selalu melekat dalam dirimu.

Mmm,
Kau ingin berbagi cerita denganku? Aku ada segelas teh gratis untukmu :)

Ditulis pada
5/7/2015 11:47 PM
Ara, Tangerang

Kamis, 25 Juni 2015

Gemar Menulismu

Kita memang pernah sedekat nadi, sebelum sejauh matahari.
Kita memang pernah ingin mencoba, sebelum akhirnya dijauhkan.
Kita memang pernah saling menguatkan, sebelum adanya pengabaian.

Izinkan aku menulis tentangmu lagi...

Beberapa hari lalu, kau berkata bahwa sudah move on dari masa lalu. Kabar bahagia yang begitu amat kutunggu. Semoga tak sekadar wacana, ya, tuan...
Tapi bagiku, move on atau belum move on, tak masalah. Semoga hidupmu selalu tenang dan bahagia.

Entah...
Aku amat gemar menulismu.
Mungkin karena dulu kau pernah membuat jejak (sedikit) dalam hariku. Ketika kau baca ini, pasti kau akan cepat merasa bahwa tulisan ini bercerita tentangmu dan jangan lupa doakan aku juga agar cepat move on dari masa lalu. Aku ingin sepertimu hehe :)

Oh iya, kau juga sempat memposting ini

"Di balik orang yang susah move on, ada mantan yang hebat. Dan di balik orang yang berhasil move on, ada orang baru yang lebih hebat"

Sepintas aku langsung tersenyum membacanya. Semoga orang barumu itu tak merasakan fase kegagalan move on mu, ya :p
Aku yakin, orang baru itu benar-benar hebat dan mampu membuatmu nyaman di setiap harinya. Kau memang pantas mendapatkannya.

Sepertinya, aku sangat mengagumi sifat hatimu. Kita berkenalan memang sangat singkat, tapi aku merasakan di setiap detiknya kalau kamu begitu tulus. Tadinya, aku ingin bilang ini secara langsung. Tapi aku takut kamu kepedean, jadi lebih baik aku tulis. Aku cari aman saja.

Aku memang tak ada di hatimu, dan mungkin kamu juga tak ada di hatiku. Tapi segala tulisan begitu lancar jika mengingatmu.

Jika berbicara tentang move on, setelah aku berdoa di waktu maghrib. Aku dapat pikiran bijaksana agar selalu berbaik sangka pada Tuhan.

1. Orang yang susah move on itu diselamatkan. Karena Tuhan menjaga kita agar tidak disakiti oleh orang baru.
2. Orang yang susah move on bukan berarti tak bisa lepas dari masa lalu. Karena Tuhan menjaga hati kita agar tetap satu. Siapa tahu orang yang susah di-move on-in itu adalah jodoh kita. Who knows? :p
3. Orang yang susah move on itu hebat. Karena Tuhan melatihnya setiap hari agar tetap sabar dari rasa cemburu dan rindu yang besar.

Begitu banyak "karena" mengapa Tuhan tak membantumu dari move on. Dan karena berbaik sangkalah yang paling menenangkan. Juga akan ada "karena" yang lain jika berhasil move on. Misalnya kamu. Mungkin memang bukanlah dia yang akan menjadi teman hidupmu. Aku turut bahagia kau menemukan orang baru.

Jangan ada lagi kegagalan move on, ya. Kamu terlalu istimewa.

(Sahabat) perempuanmu,
Ara

Ditulis pada
25/6/2015 09:58 PM
Tangerang